Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Neraka itu tidak penuh oleh orang bodoh. Tapi penuh orang pintar yang tidak sabar. Surga tidak penuh orang jenius. Tapi penuh orang setia yang tahan bosan demi sebuah kebenaran.”
(Santo Chrisostomus)
Belajar pada Ahli Permata
Ada seorang anak muda yang mau belajar pada seorang Ahli permata. Mulanya ia ditolak, karena diduga, bahwa anak itu kelak akan cepat bosan. Karena ia terus memohon, maka diterima sebagai murid. “Datanglah ke sini besok pagi,” katanya.
Keesokan hari, Ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di tangan anak muda itu dan memintanya untuk menggenggamnya. Ahli permata itu meneruskan pekerjaannya, dan meninggalkannya sendiri hingga petang hari.
Keesokan hari, Ahli permata meminta anak itu untuk kembali menggenggam batu permata yang sama. Demikian hingga hari ketiga, empat, dan kelima.
Pada hari keenam, anak itu tidak tahan lagi dan ia segera bertanya, “Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu?”
Sang Guru berhenti sejenak dan menjawab, “Akan tiba saatnya nanti,” dan kembali meneruskan pekerjaannya.
Beberapa hari kemudian, anak itu mulai merasa frustrasi. Tapi Ahli permata itu memanggilnya dan kembali meletakkan sebuah batu ke tangannya. Sebetulnya ia hendak menolak, tapi ia tetap menerimanya juga. Di saat ia menatap batu permata itu, spontan ia berkata, “Ini bukan batu yang sama!”
“Nah, lihatlah, sesungguhnya, engkau sudah belajar,” kata Gurunya.
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Sesungguhnya, Apa yang telah Terjadi?
Hal yang telah terjadi via kisah interisan ini, ialah dari aspek ‘sudut pandang’ (point of view) yang berbeda.
- Dari Sudut Pandang Murid: “Aku sudah sangat bosan, karena mengapa hanya itu-itu saja model pengajarannya!”
- Dari Sudut Pandang Guru: “Aku tidak mengajarimu ilmu. Tapi aku sedang membentuk pondasi dirimu demi hidupmu kelak.”
Bukankah Guru sejati itu tidak tertarik untuk mencetak murid dengan cara yang serba instan? Dia hanya tertarik untuk mencetak murid yang tidak mudah ambruk.
Bagaimana Cara Mencetak Murid agar tidak mudah Ambruk?
Sang Guru sejati biasanya akan selalu memegang teguh pada ‘tiga buah jurus ampuh!’
- 1. Jurus Ampuh Pertama: Selalu mau mengulang: Ayo sapu lagi. Silakan, cuci lagi.
- 2. Jurus Ampuh Kedua: Selalu mau menunda, tidak mau tergesa-gesa: Ah, belum saatnya kau pegang pedang kesatria sejati. Ayo, kau pegang sapu ini dulu, ya!
- 3. Jurus Ampuh Ketiga: Kesederhanaan dan sikap radikal. Pelajaran kita hari ini, ayo, tarik nafas 1000 kali dan menghembuskannya.
Tiga Buah Amanat Hidup dari Guru Sejati
- Guru sejati itu tidak akan pernah bermimpi untuk memberimu sepasang sayap. Tapi, yakinlah dia akan mengajarimu, bagaimana cara agar di saat murid dapat terbang, ia tidak takut untuk kembali mendarat.
- Ijazah instan bisa membeli sebuah kursi. Hanya sikap kesetiaan pada perkara kecil yang bisa membeli kewibawaan sejati. (bandingkan Lukas 16: 10).
- Jika tidak betah menyapu, jangan bermimpi untuk jadi pemimpin. Karena ternyata, Surga tidak butuh seorang Raja yang jijik pada seonggok sampah.
Mengapa Kita harus Bersikap demikian?
Karena 90% kegagalan hidup itu, bukan karena kita tidak tahu akan hal-hal besar, melainkan karena kita tidak setia pada hal-hal kecil yang harus diulang-ulang!
Refleksi
“Pendidikan instan itu akan melahirkan manusia ‘microwave’: ia akan cepat panas, cepat dingin, dan tak akan pernah benar-benar matang.
Karena pendidikan sejati itu, justru akan melahirkan manusia-manusia ‘gerabah’: akan dibakar lama, dipukul berulang-ulang, tapi sekali ditempa, ia akan kuat dan bertahan untuk 1000 tahun.
Ayo, silakan! Mau memilih yang mana?
Ingatlah! Hidup ini sangat singkat!
Tampaknya terlampau singkat untuk sekadar jadi manusia setengah matang.
“Ergo, Fidelis esto in Minimo’
“Maka, jadilah setia dalam perkara yang paling kecil!”
(Santo Chrisostomus).
Kediri, 20 April 2026

