Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sesungguhnya yang jadi masalah itu bukanlah berat absolutnya. Melainkan berapa lama Anda memikulnya”
(Stephen R. Covey)
Untuk Direnungkan!
Kisah klasik tentang seseorang yang masih mau memikul beban berat di pundaknya. Bahkan ketika dia sudah berada di atas sebuah kendaraan, ia masih juga memikulkan beban itu ke pundaknya”
Berat Segelas Air
Suatu hari, Stephen R. Covey mengajarkan mahasiswanya tentang manajemen stress.
Ia bertanya kepada mahasiswanya, “Menurut kalian, kira-kira berapa berat segelas air ini?” Jawaban para mahasiswa itu sangat beragam. Ada yang berpendapat 200 gram sampai 500 gram.
Tanpa menunggu terlalu lama, Dosen itu menjelaskan, bahwa yang jadi masalah dalam konteks ini, “bukan soal berat absolutnya, melainkan berapa lama Anda masih mau memegang atau memikulnya.”
Selanjutnya dijelaskannya, jika Anda memegangnya selama semenit, tentu itu tidak masalah. Jika selama satu jam, itu sudah bermasalah. Apalagi, jika Anda justru memegangnya selama sehari suntuk.
Dalam konteks ini, tegas Dosen itu, bahwa “berat air di gelas itu tetap sama. Jika kian lama memegangnya, maka beban itu tentu akan semakin bertambah.”
“Yang harus kalian lakukan ialah segera meletakkan gelas itu!”
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Kekuatan Manusia itu Terbatas
Hidup itu akan kian terasa berat, justru jika kita berlarut-larut mau berenang dan bahkan berani untuk menantang derasnya arus serta tantangan kehidupan ini.
Camkan! Kisah si bebal yang masih memikulkan bebannya ke pundak, sekalipun ia sudah berada di atas kendaraan.
Sepantasnya, segeralah Anda melepaskan beban di pundakmu seketika itu juga.
Jangalah sekali-kali mendidik diri ini untuk membawa problema hidup ke dalam keheningan rumah, ke dalam kedamaian ruangan keluarga, dan ke dalam lingkup pergaulan. Jika terjadi demikian, Anda justru telah menyiksa diri Anda sendiri yang kelak akan berimbas juga kepada anggota keluarga dan sesama warga yang lain.
Permasalahan Sehari itu cukuplah untuk Sehari
Bukankah sang Kebijaksanaan telah mengajarkan kita, bahwa “permasalahan sehari itu cukuplah untuk sehari?” Bukankah esok hari akan ada permasalahannya juga?
Ketika keesokan hari, ternyata matahari masih bersinar benderang dan gemintang malam masih berkedip-kedip nan indah, percayalah, bahwa adegan kehidupan ini pun masih akan terus berlangsung (The show must go on). Jika demikian, Anda justru telah menyiksa diri dengan masih terus memikulkan beban hidup keluarga di atas bahu sendiri.
Refleksi
- “The show must go on,” ketika sang aktor utama telah mati, lampu-lampu pada jatuh, dan para penonton kian rusuh. Tapi tirai kehidupan toh masih tetap terbuka.
- Mengapa? Karena realitasnya, bahwa ribuan orang sudah membeli tiket, juga kru panggung (kehidupan), tukang sapu, penjual tahu-tempe, serta kacang goreng justru masih setia berada di depan panggung.
- “The show must go on, but heart must stay hones!”
(Panggung boleh terus berjalan, tapi hatimu jangan mati rasa). - Hendaklah kita tetap setia dalam perkara kecil!
Kediri, 19 April 2026

