Pernahkah Anda duduk di sudut kamar untuk berdoa, tiba-tiba air mata Anda menetes, karena merasakan cinta Tuhan yang amat nyata? Hati ini terasa hangat, Kitab Suci yang dibaca seolah berbicara langsung kepada Anda, dan melayani sesama terasa begitu ringan. Tapi di bulan berikutnya, segalanya berubah. Doa terasa seperti mengunyah debu, kering dan hampa. Alkitab tidak lebih dari sekadar deretan huruf mati. Anda memanggil nama-Nya, tapi yang terdengar hanyalah gema suara Anda sendiri di ruang yang kosong. Anda merasa ditinggalkan.
Sebagai manusia, kita sering kebingungan dan menyalahkan diri sendiri. “Apakah aku berdosa? Apakah Tuhan sudah muak denganku?”
Cobalah menarik napas panjang. Karena yang kita alami itu bukan tanda kejatuhan, melainkan denyut nadi yang sangat normal dalam kehidupan rohani seorang beriman.
Dalam tradisi spiritualitas Katolik, khususnya melalui ajaran Santo Ignatius dari Loyola, gelombang pasang surut ini dikenal dengan dua istilah yang sangat penting: Konsolasi dan Desolasi.
Musim Semi Rohani: Memahami Konsolasi
Konsolasi (penghiburan rohani) adalah keadaan di mana jiwa kita dipenuhi oleh damai, sukacita, dan dorongan yang kuat untuk mencintai Allah dan sesama. Iman, harapan, dan kasih kita menyala-nyala. Dalam keadaan ini, salib terasa ringan.
Apa maksud dan tujuan Konsolasi? Tuhan memberikan konsolasi seperti seorang Ibu yang memberikan pelukan hangat atau “gula-gula rohani” kepada anaknya yang baru belajar berjalan. Tujuannya adalah untuk menguatkan kita, memberi dorongan, dan memberikan sedikit cicipan akan indahnya Surga.
Para mistikus Gereja, seperti Santo Yohanes dari Salib, memberikan peringatan yang tegas: Jangan berhenti pada manisnya hiburan itu, tapi carilah Tuhan yang memberikan hiburan tersebut. Bahayanya adalah, kita sering kali jatuh cinta pada perasaan “merasa dekat dengan Tuhan,” tapi melupakan Tuhan itu sendiri.
Padang Gurun Jiwa: Memahami Desolasi
Ketika datang musim kemarau. Desolasi (kesepian atau kekeringan rohani) adalah kebalikan dari konsolasi. Jiwa ini diselimuti kegelapan batin, kegelisahan, godaan, dan ketiadaan semangat. Tuhan terasa sejauh ribuan kilometer.
Banyak orang kudus hidup bertahun-tahun dalam fase ini. Santa Teresa dari Avila mengalami kekeringan doa selama belasan tahun. Santa Teresa dari Kalkuta mengalami “Malam Gelap Jiwa” selama lebih dari lima puluh tahun pelayanannya! Bahkan Yesus sendiri berseru di atas salib: “Allah-Ku, ya, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27: 46).
Apa maksud dan tujuan Desolasi?
Mengapa Bapa yang penuh kasih membiarkan anak-Nya menderita dalam kekeringan? Jawabannya tajam, tapi membebaskan: Untuk memurnikan cinta kita.
Santo Fransiskus de Sales pernah berkata, bahwa kita harus belajar untuk mencintai “Tuhan dari segala penghiburan, bukan sekadar penghiburan dari Tuhan.” Dalam masa Desolasi, Tuhan sedang menyapih kita. Seperti bayi yang harus berhenti menyusu agar bisa mulai makan makanan keras dan bertumbuh, Tuhan menarik ‘perasaan’ kehadiran-Nya agar iman kita berakar lebih dalam. Dia melatih otot-otot spiritual kita agar belajar setia, bukan karena kita merasa enak, melainkan karena Dia adalah Allah yang setia.
Dalam Kitab Hosea (2: 13), Tuhan berfirman dengan sangat indah: “Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.” Justru di padang gurun kekeringan itulah, Tuhan bekerja paling dalam untuk membersihkan egoisme rohani kita.
Bagaimana Kita Harus Menghadapinya?
Jika saat ini Anda sedang berada di dasar lembah Desolasi, jangan panik. Baiklah kita berpedoman pada para tokoh spiritualitas yang pernah ada dalam Gereja :
*Jangan Pernah Mengubah Keputusan
Ini adalah aturan emas dari St. Ignatius dari Loyola. Jika saat dalam keadaan Konsolasi Anda berjanji untuk berdoa 15 menit setiap hari, maka ketika Desolasi menyerang, tetaplah berdoa 15 menit! Jangan pernah mengurangi waktu doa Anda saat sedang kering. Setialah pada komitmen awal Anda. Keputusan yang dibuat dalam terang tidak boleh diubah saat Anda berada dalam gelap.
*Jadikan Kekeringan Sebagai Doa Itu Sendiri
Santo Yohanes Maria Vianney pernah bertanya kepada seorang petani yang selalu duduk diam berjam-jam di Gereja tanpa membawa buku doa. Petani itu menjawab, “Aku memandang Dia, dan Dia memandangku.” Saat Anda tidak mempunyai kata-kata, saat hati ini kosong, duduklah saja di hadapan salib atau Tabernakel. Kehadiran Anda yang setia di saat tidak ada ‘imbalan’ perasaan manis, adalah bukti cinta yang paling murni kepada Tuhan.
*Lawan dengan Tindakan Berlawanan (Agere Contra)
Saat Desolasi membisikkan kemalasan, berdirilah tegak. Ubah posisi doa Anda jadi lebih khusyuk. Berikan tambahan waktu lima menit dari biasanya. Ini adalah cara kita menundukkan daging dan membuktikan, bahwa kehendak kita tertuju pada Allah.
Sejatinya kehidupan rohani itu bukan soal perasaan. Perasaan kita berubah-ubah seperti cuaca, tapi Tuhan adalah batu karang yang tidak pernah goyah. Konsolasi adalah saat Tuhan memeluk kita, Desolasi adalah saat Tuhan menggandeng tangan kita dan meminta kita berjalan sendiri di samping-Nya agar kita mandiri.
Teruslah melangkah, dan teruslah berdoa. Di ujung padang gurun ini, Cinta yang sesungguhnya itu sudah menanti Anda. Semangat.
Tuhan Memberkati.
Rm Jacob Dambe Cjd

