Ada perjumpaan, ada perpisahan. Meninggalkan tempat yang sulit itu mudah, tapi meninggalkan tempat yang nyaman sering kali sungguh berat.
Paulus berpamitan kepada para Penatua di Efesus. Ia tahu, mungkin pertemuan terakhir mereka. Tapi tidak ada penyesalan. Dengan damai ia berkata, “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang kuterima dari Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil.” Kesetiaan dan keteguhan hatinya jadi teladan bagi kita, bahwa hidup ini bukan soal kenyamanan, melainkan soal panggilan untuk melayani dengan sepenuh hati.
Dalam Injil, Yesus berdoa kepada Bapa menjelang sengsara-Nya. Ia berkata, “Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan.”
Bagi Yesus, kemuliaan itu bukan soal sorotan atau pujian, melainkan soal kesetiaan total kepada kehendak Bapa, hingga tuntas, bahkan sampai mati di kayu salib. Yang mengharukan, pada saat terakhir, Yesus tidak berdoa untuk diri-Nya, tapi berdoa untuk para murid yang akan Dia tinggalkan. “Aku tidak lagi ada di dalam dunia, tapi mereka masih ada di dalam dunia.”
Yesus tahu tantangan yang ada di depan: penganiayaan, pencobaan, kebingungan. Tapi Dia tidak meminta agar mereka diambil dari dunia, tapi agar mereka dijaga dan dikuatkan. Ia tahu, kita lemah. Tapi Ia juga tahu kita bisa kuat, jika kita tinggal dalam kasih-Nya.
“Ya, Tuhan, ajarlah kami untuk hidup seperti Engkau: setia, rendah hati, dan penuh semangat dalam menjalankan tugas sesuai panggilan kami masing-masing. Amin.”
Ziarah Batin

