Kehilangan identitas sering kali jadi pintu masuk bagi kesepian yang mendalam pada lansia. “Jangan takut!” Kenali mengapa.
Kehilangan Identitas Profesional (Post-Power Syndrome)
Opa Jlitheng adalah manager sukses yang hidupnya selama 35 tahun diisi dengan pengambilan keputusan besar dan dihormati banyak karyawan. Begitu pensiun, ia kehilangan ‘seragam’ dan jabatannya (kata manager itu bisa bos, tokoh spiritual, atau pimpinan komunitas).
Kondisi Nyata: Di rumah, ia merasa tidak berguna, karena tidak ada lagi yang meminta pendapatnya atau menunggu instruksinya. Ia merasa ‘kosong’, karena identitasnya sebagai pemimpin itu hilang, sehingga ia menarik diri dari pergaulan sosial. Ia merasa malu atau tidak lagi relevan.
Kurangnya Pegangan Spiritual
Lansia yang identitasnya hanya dibangun di atas hal-hal duniawi (pekerjaan, kekayaan, atau kekuatan fisik) akan lebih mudah hancur saat hal-hal itu diambil oleh usia.
Kondisi Nyata: Tanpa identitas spiritual (sebagai hamba Tuhan yang sedang menanti kepulangan), mereka sering kali melihat masa tua sebagai akhir yang sia-sia daripada sebuah perjalanan suci. Perasaan tidak berdaya ini yang kemudian berubah jadi depresi dan isolasi batin.
Intinya, kesepian pada lansia sering terjadi bukan karena tidak ada orang di sekitar mereka, melainkan karena mereka kehilangan alasan untuk merasa berarti bagi dunia di sekelilingnya.
Berkah Dalem.
Jlitheng

