Dalam seruan apostolik Gaudette et Exsultate (Bergembira dan Bersukacitalah), Paus Fransiskus mengatakan, bahwa Sabda Bahagia merupakan kartu identitas Kristiani. Kalau seseorang bertanya, “Apakah yang mesti dilakukan untuk jadi orang Kristiani yang baik?” Jawabannya sederhana: Kita perlu menjalankan, masing-masing dengan caranya sendiri, apa yang dikatakan Yesus dalam Sabda Bahagia” (no. 62).
Mari kita mau merenungkan tentang lapar dan haus. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat. 5: 6).
Lapar dan haus itu merupakan pengalaman yang mendalam, sebab keduanya melibatkan kebutuhan dasar dan naluri kita untuk bertahan hidup” (GE, no. 77). Demikian juga, ketika lapar dan haus, kita ingin segera makan dan minum, entah pada saat sedang bekerja, atau sedang melakukan perjalanan jauh.
Ketika Nabi Elia bersembunyi di tepi Sungai Kerik, di sebelah Timur Sungai Yordan (1Raj. 17:3) juga merasa lapar dan haus. Bagaimana dia memenuhi kebutuhan dasarnya ini? Apa yang dia lakukan? Sebagaimana diperintahkan Tuhan kepadanya, “Pada waktu pagi dan petang, burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu” (ay. 6). Burung-burung gagak itu tahu, bahwa mereka adalah utusan Tuhan, sehingga mereka tidak memanfaatkan roti dan daging untuk kepentingan mereka sendiri, tapi membawanya kepada Nabi Elia yang lapar dan haus. Nabi Elia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Ia dipulihkan oleh Allah.
Dalam Injil, Yesus menjanjikan, bahwa mereka yang lapar dan haus, teristimewa lapar dan haus kebenaran itu akan dipuaskan. Bagi kita orang Kristiani, kalau lapar dan haus akan kebenaran, biarlah Allah saja yang memuaskan kita.
Marilah kita hidup dalam kebenaran dengan bertindak dan berbicara secara jujur.
“Tuhan, buatlah kami untuk selalu haus dan lapar akan kebenaran dan menjauhkan diri dari segala perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran. Amin.”
Ziarah Batin

