“Hidup ini pilihan. Ketika kita berani memilih dan memutuskan untuk berbuat baik itu anugerah Tuhan.” -Mas Redjo
Saya terinspirasi dan termotivasi dengan firman Tuhan, “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15: 16).
Ketika dipilih dan dipercaya, apakah kita akan mengecewakan orang itu? Sudah diberi hati, tapi kita meminta jantungnya pula itu ngelunjak dan tidak tahu diri.
Teristimewa itu adalah, karena kita dipilih Tuhan Yesus yang rela korbankan diri untuk menebus dosa dan menyelamatkan kita dari maut. Adakah kita tega untuk menyakiti hati-Nya?
Penegasan firman-Nya itu sungguh menguatkan dan meneguhkan jiwa ini. Tuhan selalu menyertai kita agar menghasilkan buah. “Supaya yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh 15: 17).
Tidak sekali dua, tapi sudah sering kali saya diingatkan, karena dikasihi Tuhan. Untuk tidak membalas atau mendendam kepada mereka yang merendahkan, menyakiti, atau memusuhi. Tapi agar mengasihi dan mendoakan mereka.
Kasih itu adalah landasan iman Kristiani yang harus mengakar kuat agar kita tidak mudah korslet untuk membalas atau mendendam orang yang bersalah dan memusuhi. Tapi agar kita rendah hati dan mengasihi mereka.
Sejatinya kita sering kali diingatkan untuk melihat banyak peristiwa tabur tuai dalam hidup keseharian agar kita tidak melakukan hal yang serupa dan merugikan sesama. Tapi melakukan kebaikan yang dilandasi kasih Tuhan agar berkenan bagi-Nya.
Tetap kokoh untuk bertumbuh dan berbuah, karena sumber hidup kita adalah pokok Anggur yang Benar.
“Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15: 5).
Mas Redjo

