“Saksi terbesar itu bukannya memperlihatkan tiadanya ketakutan, melainkan kesetiaan di saat ada ketakutan.”
Allah yang Maha Rahim,
Dalam Injil, Putra-Mu berkata: “Jangan takut!”
Kami tahu Yesus tidak hanya berbicara tentang kekhawatiran sehari-hari, tapi terutama tentang ketakutan saat kami dipanggil jadi saksi-Nya di dunia yang penuh ketakutan.
Kami takut ditolak, disalah-mengerti, menderita, kehilangan, dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Bahkan kadang kami takut untuk berdiri di pihak kebenaran.
Melalui Nabi Yeremia, Engkau mengingatkan kami: sekalipun ada “kegentaran dari segala penjuru,” kami tidak sendirian, sebab Engkau beserta kami seperti pahlawan yang perkasa.
Bapa, melalui Adam dosa masuk ke dunia, dan bersama dosa masuk pula ketakutan-ketakutan yang membuat manusia bersembunyi dari-Mu. Tapi melalui Yesus, Adam yang baru, rahmat dan belas kasih-Mu melimpah jauh melebihi dosa. Dalam Dia, kami tidak perlu lagi bersembunyi.
Ajarlah kami melihat, bahwa ketakutan sehari-hari kami tentang kesehatan, keluarga, keuangan, atau masa depan itu adalah kesempatan bagi kami untuk jadi saksi-Mu.
Saat orang lain melihat kami tetap setia dalam pencobaan, tetap tenang di tengah kekacauan, dan bersukacita dalam penderitaan, mereka dapat melihat sesuatu yang melampaui kekuatan manusia: kerahiman-Mu yang bekerja dalam hidup kami.
Tolong kami mewartakan dari atas atap yang Engkau bisikkan dalam hati kami saat doa:
“Allah yang Maharahim beserta kami. Engkau berkuasa dalam karya-Mu, berlimpah dalam belas kasih, dan setia pada setiap janji-Mu.”
Saat ketakutan datang, ingatkan, bahwa kami lebih berharga daripada banyak burung pipit. Tidak ada satu pun dalam hidup kami yang luput dari pandangan kasih-Mu.
Yesus, Engkaulah andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

