*Meski tidak mempunyai ikatan darah, tapi hati yang saling mengasihi dan bahagia.” -Mas Redjo
…
“Putrinya, Mbak?” tanya saya pada Mbak A yang membuka kantin di pujasera GMKA itu, ragu. Mbak A tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Maaf…! Tapi manggilnya kok Ibu, bahkan gadis itu tampak sedih, ketika pamit dengan Mbak.”
“Sanes! Tapi seperti anak sendiri. Ia pamit mau bekerja di luar kota Pak,” jelas Mbak A sambil menyeka matanya yang sembab. Saya tersenyum, dan mengiyakan.
Menurut Mbak A, ia bekerja pada keluarga gadis itu lebih dari sepuluh tahun, ketika gadis itu masih kecil. Jika anak-anak keluarga itu memanggil orangtuanya Papa dan Mama, tapi memanggilnya Ibu.
Menurut Mbak A, meski ia telah berhenti bekerja dari keluarga itu, dan membuka warung di pujasera GMKA, tapi kedekatan hubungan dengan mereka tetap terjaga erat.
“Sesekali kami saling mengunjungi. Mereka datang ke sini, dan saya bersama suami atau anak main ke rumah mereka,” wajah Mbak A makin sumringah.
Mbak A bercerita, pernah terjadi, ketika ia izin tidak bekerja, adik dari gadis itu sakit demam dan rewel minta diantarkan ke rumahnya. Anehnya, panas tubuh adiknya langsung menurun, setelah bertemu dan dipeluknya, bahkan tidak mau diajak pulang!
“Saya bersyukur dengan atensi keluarga mereka yang mendukung saya untuk membuka kantin di sini,” hati Mbak A mengharu biru, dan bahagia.
“Bersyukur, Mbak mempunyai Bos yang baik dan perhatian,” komentar saya.
“Nggih, leres. Melebihi hubungan darah dengan keluarga sendiri,” puji Mbak A bangga.
Saya tersenyum mengiyakan. Saya ingat ajaran Yesus dalam Alkitab, bahwa “Ibu dan saudara-saudara-Nya itu bukanlah karena hubungan darah, melainkan siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di Surga” (Mark 3: 33-35).
…
Mas Redjo

