“Perintah Tuhan bukan beban, melainkan jalan yang menuntun kita kepada kasih.”
Dalam Injil, Yesus berkata, bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Di dalam Dia, firman Allah tidak lagi hanya tertulis di batu, melainkan hidup di dalam hati kami.
Ya, Allah, perintah-Mu sering kali terasa berat. Kami ingin bebas, tapi kami lupa, bahwa firman-Mu justru melindungi hidup kami. Seperti seorang Ayah yang menetapkan batas bagi anaknya, karena kasih, demikian juga Engkau memberikan perintah-Mu agar kami hidup dengan benar dan tetap dekat dengan-Mu.
Dalam Yesus, hukum itu bukan lagi sekadar aturan, melainkan kasih.
Ia mengajar kami untuk melangkah lebih dalam: bukan hanya tidak melukai orang lain, melainkan juga membersihkan hati dari kemarahan;
bukan hanya taat secara lahiriah, melainkan mengasihi seperti Ia mengasihi kami.
Tuhan, firman-Mu bertindak cepat di bumi dan tidak akan pernah berlalu. Ajarlah kami menghargai firman-Mu. Berilah kami hati yang mau mendengarkan dan mempercayainya.
Ketika kami jatuh, ingatkanlah kami
bahwa kerahiman-Mu lebih besar dari kelemahanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

