Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Verae Amicitiae Sempiternae Sunt”
“Persahabatan Sejati biasanya Langgeng”
(Cicero)
Sumpah Setia ‘Cicero’
“Sampai mati, saya tidak senang dengan permusuhan, karena saya memiliki persahabatan abadi”
(Neque me vero paenitet mortalis inimicitias, sempiternas amicitias habere).
Dalam konteks sumpah setianya ini, Cicero mau menegaskan, bahwa “persahabatan sejati bukan seperti kontrak politik yang berorientasi pada kepentingan sesaat.” Statemen tegas ini tertulis dalam karyanya berjudul, “Pro Rabirio Postumo.”
(Ex Latina Claritas).
Pemberian nan Tulus
Ketika Presiden Wilson (AS), sedang berkeliling dan tiba di wilayah Billing, Montana, dia dihadang oleh dua orang anak kecil. Keduanya seolah mau menghadang Presiden. Yang seorang dengan spontan memberikan seutas bendera Amerika, dan yang seorang lainnya segera merogoh saku celananya, lalu menyerahkan “sekeping uang logam receh” kepada Presiden yang ikhlas menerima dan memasukkan ke dalam lipatan dompetnya.
Lima tahun kemudian, Presiden nan tulus itu wafat. Tanpa disengajakan, Nyonya Wilson membuka dompet suaminya. Apa yang ditemukan? Ternyata, hingga lima tahun lamanya, Presiden nan tulus itu, menyimpan sekeping koin receh, pemberian tulus dari seorang anak kecil. Ketika seseorang sangat menghargai sebuah pemberian, maka dia akan menyimpan warisan itu hingga ajalnya tiba.
(1500 Cerita Bermakna).
Makna Filosofis dari Pemberian nan Tulus
Ketika Anda bersikap dan memberi dengan tulus, maka:
- Anda telah memberikan sesuatu dengan tanpa mengharapkan balasan!
- Anda telah memberikan sesuatu dengan hati ikhlas!
- Anda telah memberikan sesuatu sebagai sebuah ekspresi kasih ikhlas!
Bukankah di balik sikap-sikapmu itu, sesungguhnya yang tercurahkan adalah:
(a) sikap kemurahan!
(b) Sikap kasih sejati!
(c) sikap kepedulian!
Marilah Kita terus Belajar demi Hidup Kita
Lima Prinsip agar Abadi Persahabatan Kita
- Sikap saling menghargai.
- Memberi dan menerima.
- Kebebasan.
- Keunikan.
- Keterbukaan.
Di dalam dan lewat proses persahabatan sejati nan abadi itu, Anda dan saya perlu memiliki sikap: saling mendukung dalam suka maupun duka. Sebaliknya, milikilah sikap saling melengkapi di dalam keterbatasan kita. Dibutuhkan pula sikap ketulusan, keunikan, dan keterbukaan. Karena tanpa sikap-sikap ini, persahabatan itu akan segera sirna.
(Ex Latina Claritas)
Refleksi
“Ubi Amici, Ibidem Opes”
“Di Mana ada Sahabat, di Sana ada Kekayaan”
(Plautus)
Kediri, 11 Maret 2026

