“Menimbun harta di Surga melalui kasih: berbuat baik, pengampunan, pengorbanan, dan kemurahan hati.”
Allah yang Maha Rahim,
Engkau mengingatkan kami, bahwa sekalipun kegelapan tampak berkuasa, tapi janji-Mu tidak pernah gagal.
Atalya berusaha memusnahkan garis keturunan Daud, seolah-olah kejahatan dapat menggagalkan perjanjian-Mu. Tapi saat kekacauan melanda istana, Engkau diam-diam melindungi Yoas kecil di tempat tersembunyi. Apa yang tampak hilang sesungguhnya tetap berada dalam penjagaan-Mu.
Betapa menghibur, Bapa. Ketika kejahatan terasa lebih kuat daripada kebaikan, ketakutan terasa lebih besar daripada iman, dan ketika rencana-Mu tampak tertunda. Tapi Engkau berbisik kepada kami: “Aku tetap bekerja, bahkan di tempat-tempat tersembunyi.”
Dalam Injil, Putra-Mu Yesus mengajar kami tentang harta yang sejati. Harta dunia itu fana sifatnya. Ngengat merusak. Karat menghancurkan. Pencuri dapat mengambilnya. Bahkan hal-hal yang begitu keras yang kita jaga itu akhirnya akan lenyap. Tapi harta di Surga tidak akan pernah binasa, karena berakar dalam diri-Mu.
Yesus bersabda, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Betapa dalam sabda ini. Harta adalah apa pun yang paling kita anggap berharga: yang menyita pikiran, waktu, tenaga, dan perhatian. Sering kali kami sadar, betapa mudah hati kami melekat pada hal-hal yang sementara: kenyamanan, pengakuan, milik, kesenangan, memegang kendali, bahkan distraksi tanpa akhir.
Yesus berbicara tentang mata sebagai pelita tubuh. Apa yang diizinkan untuk terus dilihat itu akan membentuk batin kami. Yang terus ditonton, dibandingkan, dan diinginkan perlahan itu membentuk prioritas hidup kami. Jika pandangan kami terpaku pada gemerlap dunia, hati kami jadi gelisah dan selalu merasa kurang. Jika mata kami jernih: terarah pada kebenaran, kebaikan, belas kasih, dan terutama pada Yesus, seluruh hidup kami akan dipenuhi terang.
Bapa, murnikanlah penglihatan kami. Ajarlah kami menjaga mata, tidak hanya pada hawa nafsu atau kenajisan, tapi juga dari iri hati, kesombongan, kerakusan, dan godaan hidup yang berpusat pada diri sendiri. Jangan biarkan kami sibuk mengejar yang sementara sampai kehilangan pandangan akan yang kekal.
Tolong kami menimbun harta di Surga melalui kasih yang nyata: belas kasih yang diberikan, pengampunan yang dilepaskan, kemurahan hati kepada yang miskin, pengorbanan tersembunyi, ketaatan yang setia, dan setiap ‘ya’ kecil kepada rahmat-Mu. Semua itu tidak akan pernah binasa.
Terima kasih, Bapa, karena harta terbesar bukanlah sesuatu, melainkan Seseorang, yaitu Engkau sendiri. Jadi anak-anak-Mu yang terkasih, menerima pengampunan-Mu, hidup dalam persahabatan dengan-Mu, dan berjalan dalam terang-Mu; itulah kekayaan sejati yang tak ternilai.
Semoga hati kami berakar pada yang kekal. Mata kami tetap tertuju pada Yesus, dan belas kasih-Mu jadi harta yang paling kami rindukan, sehingga melalui hidup kami semakin banyak orang mengenal, mengasihi, dan menyembah Engkau.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

