Kita sering melihat dengan mata jasmani, tapi hati ini tertutup terhadap kasih Allah, kebutuhan sesama, dan kebenaran diri sendiri. Luka, kelelahan, dan dosa membuat kita kehilangan arah. Tapi Petrus mengingatkan siapa kita ini sebenarnya, “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat rajani, bangsa kudus, umat Allah sendiri.” Kita bukan hanya diselamatkan, melainkan juga dipanggil jadi terang bagi dunia.
Kisah Bartimeus memberi kita harapan. Ia buta, miskin, dan terpinggirkan, tapi memiliki iman yang kuat. Ia tidak hanya dipulihkan secara fisik, tapi menerima hidup baru dari Yesus.
Bartimeus berseru nyaring, tidak gentar saat dimarahi orang banyak. Ia melemparkan jubahnya, mungkin satu-satunya miliknya yang digunakan untuk berlindung dan meminta-minta. Ia tahu, untuk mengikuti Yesus, ia harus meninggalkan masa lalu dan segala yang menahan dan menghambatnya.
Sikap Bartimeus ini mengajarkan kepada kita, bahwa mengikuti Yesus berarti berani meninggalkan masa lalu, segala luka, keterbatasan, dan beban yang mengekang, demi menerima hidup baru dalam terang kasih-Nya.
“Ya, Tuhan, bukalah mata hati kami. Pulihkan kami dan ajarlah untuk berjalan dengan setia bersama-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

