“Berdagang mencari keuntungan semata itu rezekinya bakal susut. Bagi yang memprioritaskan persaudaraan, dijamin rezekinya berkelimpahan.” -Mas Redjo
Ketika harga barang melonjak di luar nalar dan tidak terkendali, PO barang hilang alias digaibkan oleh importir atau pabrik itu hal biasa. Tapi yang luar biasa itu adalah mereka yang mempunyai komitmen dan konsisten untuk merajut relasi yang baik dengan pelanggannya.
Tidak harus saling menyalahkan atau mencari pembenaran sendiri. Karena kebenaran itu tidak membutuhkan validasi.
Orang yang berbuat jahat dan mau menang sendiri itu juga tidak perlu dibalas serta dihakimi, tapi lebih bijak diingatkan dengan hati agar sadar diri.
Pada teman yang dikecewakan, baik oleh importir atau pabrik yang menghapus PO agar hubungan itu dikaji ulang.
Saya prihatin-seprihatinnya melihat sikon produsen rumahan dan pedagang kecil yang bingung serta linglung untuk menyiasatinya. Maju kena mundur kena.
Di saat krisis minyak dan harga kemasanan plastik melonjak tinggi, untuk menaikkan harga barang itu berarti penjualan makin sepi. Begitu pula, bila produk yang dikecilkan berarti makin dijauhi oleh pembeli.
“Lebih bijak kita mengambil jalan tengah.”
Hal itu yang saya lakukan, ketika dikeluhi umkm dan pedagang kecil. Meski tidak diberi harga ekstra dari pabrik, bahkan minta pembayaran dipercepat, saya serta merta tidak menaikkan harga secara signifikan, tapi bertahap. Harga perseduluran itu tidak memberati pelanggan, tapi agar kami mampu tegar bertahan.
Bagi kami yang terpenting adalah bersinergi untuk memperkokoh relasi dan usaha agar tetap eksis. Dengan bergandengan tangan, kami melangkah mantap untuk melewati krisis ini dengan selamat.
Mas Redjo

