Oleh: Fr. M. Christotorus, BHK
“Gengsi itu kayak buah durian, banyak yang tak suka baunya, tapi diam-diam banyak yang mau makan isinya.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Marilah kita merefleksikan salah sebuah wabah dunia, si ‘Gengsi’ namanya!
- Apakah Gengsi itu?
Gengsi itu sama dengan sebuah harga diri yang dibungkus rapi dengan kertas kilat keemasan. Namun otentikanya, ‘harga diri’ itu memang sehat. Bukankah itu sebuah kebesaran dan bahkan kemuliaan? “Lihatlah, betapa aku ini sungguh berharga!”
Gengsi itu adalah sebuah harga diri versi kerapuhan, ketakaslian.
Rumusannya: Gengsi sama dengan harga diri + takut malu + butuh validasi.
- Ciri-ciri Pribadi Bergengsi
- Selalu menjaga image: menjaga integritas, lebih takut kelihatan miskin daripada berbohong.
- Tidak mau kalah: dia tidak sudi meminta maaf atau minta tolong, jika dia melakukan hal itu akan serasa dina papa.
- Hidup ini hanya demi etalase: rela membeli barang yang tidak dibutuhkan, hanya demi, apa kata orang.
- Anti kritik: jika ada orang memberi masukan, tapi justru dianggapnya sebagai sebuah serangan. Mengapa? Ya, karena hal itu akan mengancam topeng di wajahnya.
Jadi ada perbedaan: orang berwibawa akan tetap tenang, meskipun mengenakan celana murah. Sebaliknya, orang bergengsi, akan panik, jika merk celananya justru tidak kelihatan.
- Antara Gengsi dan Filosofi si Arif
Inilah bagian yang paling menarik!
Si Arif, sama dengan orang yang bijak dan berpengetahuan. Filosofinya akan berkebalikan dengan orang bergengsi.
Filosofi Diri si Gengsi
- Aku wajib tampil hebat!
- Aku takut direndahkan.
- Sungguh malu, jika aku tidak tahu.
- Nilai luhur diriku sama dengan apa yang aku punyai.
- Aku hidup demi mendapatkan pujian.
Filosofi Diri si Arif
- Kehadiranku harus bermanfaat.
- Aku takut untuk merendahkan diri sendiri.
- Aku merasa malu, jika pura-pura tahu.
- Nilai luhur diriku sama dengan apa yang aku persembahkan.
- Hidupku untuk memberikan makna serta arti.
Camkan, kata-kata arif filsuf Socrates!
“Aku tahu, bahwa sesungguhnya, aku tidak tahu apa-apa!”
Si Arif justru nyaman, karena ketidaktahuannya. Maka, dia selalu ingin terus belajar.
Sedangkan si Gengsi itu haus akan sok tahu, maka dia sudah berhenti untuk bertumbuh.
Ingatlah! Ucapan agung di dalam budaya Jawa, “Sepi ing pamrih, rame ing gawe.” Bahwa si Arifin akan fokus untuk bekerja, bukan untuk sebuah pamor.
Tapi, si Gengsi akan fokus untuk sebuah pamor, sampai ia lupa untuk bekerja!
- Mengapa Orang Doyan Bergengsi?
Empat Akar Psikologis
- Luka harga diri di masa kecil: Ingat, anak kecil yang sering dihina, dibanding-banding, atau baru dihargai, jika ia meraih peringkat I.
- Masyarakat etalase: budaya yang mengukur manusia dengan simbol: gelar, jabatan, mobil mewah, foto sedang berada di kota Roma, atau foto berada di kota Mekkah (Sistem sosial yang menyuburkan budaya gengsi).
- Rasa tak aman eksistensial: Aku butuh pembuktian lewat harta benda, aku ini sangat penting!
- Miskonsepsi tentang hormat: dikiranya dihormati itu sama dengan ditakuti /dikagumi.
- Dampak Orang Bergengsi dalam Kehidupan
- Ia sesungguhnya miskin, tapi gayanya luar biasa, gajinya hanya sejuta perbulan, tapi belanjanya dua juta perminggu.
- Ia telah mati tumbuh: ia enggan untuk belajar, dan tidak mau bertanya.
- Ia merasa sepi di dalam keramaian: banyak teman nongkrong, tapi nol teman curhat (karena topeng tidak bisa dipeluk).
Refleksi
Marilah kita kembali ke dalam gubuk jiwa otentika kita.
Di sana, harga diri dan martabat kemanusiaan kita akan kembali bertumbuh!
“Egoisme benar-benar telah menghancurkan komunikasi, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.”
(Hubert Van Zeller)
Kediri, 24 April 2026

