Dalam kehidupan iman, sering kali kita berbicara tentang panggilan dan perutusan seolah-olah keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Padahal, keduanya tidak dapat dipisahkan. Panggilan tanpa perutusan akan kehilangan arah, sedangkan perutusan tanpa panggilan akan kehilangan dasar dan makna. Ketika Tuhan memanggil seseorang, di dalam panggilan itu sudah tersimpan tugas yang harus dijalankan. Sebaliknya, ketika Tuhan mengutus seseorang, perutusan itu lahir, karena sebelumnya Tuhan telah memanggil dan memilihnya.
Kitab Suci menunjukkan kenyataan ini berulang kali. Abraham dipanggil untuk meninggalkan negerinya dan sekaligus diutus jadi berkat bagi banyak bangsa. Musa dipanggil melalui semak yang menyala, lalu diutus membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. Para Rasul dipanggil satu per satu oleh Yesus, bukan sekadar untuk jadi murid-Nya, melainkan juga untuk pergi mewartakan Kerajaan Allah. Tidak ada panggilan yang berhenti pada diri sendiri. Setiap panggilan selalu mengarah pada pelayanan dan pengabdian bagi sesama.
Kita kadang lebih menyukai salah satu dari keduanya. Ada yang suka berbicara tentang panggilan, tapi kurang berani menjalankan tugas yang dipercayakan. Ada pula yang begitu sibuk dengan berbagai pelayanan, sehingga lupa merawat hubungan pribadinya dengan Tuhan yang memanggil. Padahal, panggilan dan perutusan itu harus berjalan bersama. Perutusan memperoleh kekuatan dari kedekatan dengan Tuhan, sedangkan panggilan menemukan maknanya, ketika diwujudkan dalam tindakan nyata.
Sebagai orang beriman, kita dipanggil tidak untuk hanya menikmati kenyamanan rohani. Tuhan memanggil kita agar jadi alat kasih-Nya di tengah dunia. Panggilan jadi orangtua, Guru, Imam, Biarawan-biarawati, pekerja, atau pemimpin selalu mengandung tanggung jawab yang membawa kebaikan bagi orang lain. Setiap panggilan itu selalu membawa misi. Tidak ada panggilan untuk dirinya sendiri.
Dengan perutusan, yang pertama-tama bekerja bukanlah kemampuan kita, melainkan Tuhan yang memanggil. Ini membuat kita tetap rendah hati. Kita diutus bukan karena paling pandai, suci, atau kuat, melainkan karena Tuhan memilih dan mempercayai kita. Ketika menghadapi kesulitan, kegagalan, atau penolakan, kita dapat kembali kepada sumber perutusan itu, yaitu Tuhan sendiri yang telah memanggil kita sejak awal.
Hendaknya kita terus memelihara kesatuan antara panggilan dan perutusan. Setiap kali mendengar suara Tuhan, hendaknya kita siap melangkah menjalankan tugas yang dipercayakan-Nya. Setiap kali menjalankan perutusan, hendaknya kita tidak lupa kembali kepada Tuhan yang memanggil. Di sanalah hidup beriman menemukan kepenuhannya, ketika panggilan jadi pelayanan dan pelayanan jadi jawaban kasih kepada Tuhan.
“Ya, Tuhan, kami mohon agar kasih-Mu yang Engkau curahkan melalui ibadat Ekaristi ini, berbuah kasih bagi kami dan yang kami bagikan kepada sesama. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

