Puluhan tahun lalu, sebuah tindakan sederhana dilakukan tanpa pamrih: memberikan sepotong baju batik kepada seorang murid SMA agar ia bisa tampil percaya diri bersama teman-temannya.
Kini, murid itu telah tumbuh jadi Pelayan Agung bagi ribuan umat. Saat memberikan wejangan di hadapan para pelayan jemaat, ia tidak bicara tentang teori kepemimpinan, melainkan mengenang batik tua itu:
“Lewat baju batik inilah, saya pertama kali merasakan arti cinta yang tulus. Jadi pemimpin itu bukan tentang memerintah dari atas mimbar, melainkan tentang bagaimana kita hadir dan merengkuh mereka yang lemah. Itulah awal Hati Kudus yang saya rasakan.”
Refleksi:
Kasih Hati Kudus itu tidak selalu butuh perkara besar. Kasih-Nya paling nyata hadir melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta yang besar. Tindakan sederhana kita hari ini bisa mengubah masa depan seseorang.
“Sudahkah kita hadir dan merengkuh mereka yang lemah hari ini?”
Berkah Dalem.
Jlitheng

