“Yang pintar tidak semua benar, yang benar belum tentu juga pintar.” -Rio, Scj.
Negara kita sedang tidak baik-baik saja. Pikiran ini mengelitik otak saya. Kenapa, ya, negara demokrasi ujung-ujungnya berubah jadi kacau.
Ribuan tahun lalu seorang sejarawan Yunani bernama Polybius sudah memprediksi sebuah siklus kehancuran negara. Menurut Polybius sejarah politik manusia tidak selalu bergerak maju, kadang sejarah justru berputar seperti roda.
Pemerintahan lahir dalam bentuk yang baik, tapi pelan-pelan membusuk oleh mental korup. Awalnya masyarakat dipimpin oleh satu Raja yang kuat dan bijak. Inilah monarki, tapi saat Raja bijak itu mati, kekuasaan itu jatuh ke tangan keturunannya. Mereka mewarisi tahta, tapi tidak mewarisi kebijaksanaan. Dari sinilah monarki berubah jadi tirani.
Ketika tirani terlalu menindas orang-orang terbaik dalam masyarakat itu bangkit melawan. Mereka adalah para bangsawan, tokoh militer, cendekiawan, atau elit yang dianggap mempunyai keberanian dan kebijaksanaan. Lahirlah aristokrasi.
Aristokrasi dipimpin oleh orang-orang terbaik, tapi lama-lama anak cucu para aristokrat itu mulai lupa pada kepentingan rakyat. Mereka hanya menjaga harta, jabatan dan kepentingan kelompoknya sendiri. Aristokrasi pun membusuk jadi oligarki.
Oligargi cenderung negara hanya milik elit hukum. Terasa tajam ke bawah dan kekuasaan hanya berputar di lingkaran orang-orang yang sama. Ketika rakyat muak dengan kekuasaan para elit. Mereka menuntut kebebasan dan pemerintahan yang lebih luas. Lahirlah demokrasi.
Awalnya demokrasi itu baik, karena rakyat ikut menentukan arah negara, tapi demokrasi mulai membusuk, ketika kebebasan tidak lagi diiringi tanggung jawab. Rakyat tidak lagi memilih dengan akal sehat, tapi karena emosi, uang, fanatisme, dan janji manis.
Lama-lama politik berubah jadi pertarungan popularitas; bukan lagi soal mana kebijakan yang benar, melainkan siapa yang paling pandai menarik suara mayoritas. Masyarakat terpecah jadi kubu-kubu yang saling membenci. Di titik ini demokrasi bukan lagi pemerintahan rakyat yang sehat, melainkan pemerintahan masa yang kacau. Negara tidak lagi digerakkan oleh hukum dan kebijaksanaan, tapi oleh kerumunan dan perebutan pengaruh.
Dari kekacauan ini muncul satu figur kuat yang dianggap bijaksana, yang tampil sebagai penyelamat yang mampu mengakhiri kekacauan dan menegakkan ketertiban. Dari sana roda kembali berputar ke awal.
Bukan renungan, tapi kita melihat keprihatinan dalam pengetahuan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

