Yesus Kristus, ketika berada di dunia telah mengalami aneka bentuk penderitaan manusiawi sebagai akibat dari dosa dan kejahatan manusia. Berhadapan dengan semua itu, Ia tidak melawan, tapi justru menerima dengan tenang, mengampuni dan mendoakan mereka yang melawan atau menganiayai Dia.
Ia melawan semua itu dengan senjata damai dari Bapa-Nya. Para pengikut-Nya, mulai dari para Rasul sampai ke generasi kita saat ini, disiapkan dengan sedemikian rupa untuk dapat mengalami segala bentuk penderitaan yang sudah Ia alami. Para Rasul terbukti siap menghadapi semuanya dan mereka tidak gentar, karena senjata damai itu jauh lebih kuat daripada senjata apa pun. Paulus dan Barnabas menunjukkan itu, ketika mereka membangun dan memperkuat eksistensi Gereja dari satu tempat ke tempat yang lain.
Gereja dan pengikut Kristus di segala tempat dan zaman hingga saat ini juga menyadari, bahwa prediksi Yesus tidak meleset, yaitu piala penderitaan yang Ia minum, diminum juga oleh para pengikut-Nya. Senjata damai yang sama tetap dipakai, dan kalimat terkenal yang selalu diulangi dalam perayaan Ekaristi menegaskan keampuhan senjata itu, “Damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu.”
Yesus Kristus memberikan kita damai dari diri-Nya sebagai senjata yang sangat berguna, dan saat yang paling pas untuk memakainya, ketika kita berada dalam tekanan, bahaya dan ancaman. Ia sudah menyiapkan kita dengan strategi ini. Ia sudah tahu, bahwa yang akan terjadi bagi setiap pengikut-Nya adalah rupa-rupa kesulitan dan penderitaan.
Kebaikan dan kebenaran Kristus sangat bertentangan dengan budaya dan gaya orang-orang di dunia yang terjangkiti oleh dosa dan kejahatan. Tapi Yesus dan para pengikut-Nya tidak menyerah dan takut. Salib itu harus dipikul dan tidak dikutuk atau dibuang. Setelah salib itu ada kemenangan dan kebangkitan.
Kita bersyukur dan beruntung, karena Yesus Kristus telah mempersiapkan kita untuk menghadapi situasi terburuk di dunia ini, mempersenjatai kita dengan damai dari diri-Nya sendiri. Bayangkan, jika Ia mempersenjatai kita dengan pedang atau senapan, bisa jadi profil kita sebagai Kristen mungkin jadi yang terburuk di dunia. Damai dari Yesus justru berguna untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan. Di situlah kemenangan yang sesungguhnya.
“Tuhan Yesus Kristus, penuhilah hati kami dan Gereja-Mu dengan damai dari-Mu, karena damai itu yang menjaga dan melindungi kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

