Seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun bermain sepeda. Ia melajukan sepedanya dengan kencang melalui lorong-lorong kecil di sekitar rumah, sebelum kembali ke halaman rumah. Pada saat hendak memasuki halaman ia kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh di got. Ia berhasil ke luar dari got, tapi tidak bisa mengangkat sendiri sepedanya.
Ia menahan sakit dan tidak menangis. Ia diam, memandang sepedanya yang di got. Ia juga tidak berteriak kepada Bapaknya yang berada di samping rumah, karena takut dimarahi.
Ketika Bapak itu tahu, anaknya sedang menghadapi masalah, ia datang kepadanya. Anak itu mulai menangis saat Bapaknya datang mendekat dan membantu mengangkat sepeda itu dari dalam got.
Tindakan Bapak ini adalah sebuah contoh mencampuri urusan atau campur tangan pada momen yang tepat dan benar. Anaknya sungguh sedang membutuhkan sebuah pertolongan, dan pada saat itu ia datang serta turun tangan.
Rasul Petrus ditegur oleh Yesus, karena jelas mencampuri urusan murid lain yang dikasihi Tuhan dan urusan Yesus sendiri. Menurut Yesus, seharusnya Petrus mengurusi kepentingannya sendiri, sebelum sibuk dengan kepentingan orang lain. Dengan kata lain, momennya tidak tepat untuk campur tangan. Ini juga terjadi dengan kepentingan kekuasaan Romawi dan agama Yahudi yang saling campur urusan atau tarik-menarik dalam penderitaan yang dialami oleh Paulus saat berada di Roma.
Campur tangan atas kepentingan sesama itu pada dasarnya tidak bisa dihindari, karena bagian dari memberikan perhatian. Supaya jadi suatu perbuatan yang sangat positif dan sebagai suatu pelayanan, mestinya kita bisa menghindari dua sikap ekstrem yang membuat campur tangan itu jadi tindakan yang salah dan berakibat buruk bagi kita sendiri serta orang lain.
- Pertama: campur tangan yang tidak perlu, atau tepatnya yang berlebihan dan salah tempat serta waktunya. Seorang yang sedang gelisah dan sedih, ketika kita justru melibatkan dia dalam diskusi sesuatu hal yang membuatnya bertambah kacau pikiran dan hatinya.
- Kedua ialah tidak berbuat apa-apa atau sama sekali tidak campur tangan. Seorang teman menyesal sekali, karena tidak membantu rekannya, padahal sebenarnya ia bisa. Akibatnya rekan itu menderita kecelakaan parah. Jadi, dengan menghindari dua sikap ekstrem ini tinggal satu pilihan saja, yaitu sikap tindakan campur tangan yang diperlukan, pada waktu dan tempat yang benar, sesuai dengan kebutuhan atau kepentingannya.
“Dengarkanlah doa kami yang memohon kepada-Mu, ya, Tuhan, supaya kami selalu saling memberikan perhatian demi meningkatkan kualitas hidup kami lebih baik dalam relasi dan kerja sama di antara kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

