“Salah satu penyebab terbesar masalah yang kita hadapi dalam hidup dan relasi dengan orang lain adalah kita kurang, bahkan tidak mau mendengarkan, tapi langsung berbicara atau bertindak. Akibatnya, lebih banyak kita menyesal daripada mensyukuri hasilnya.”
Dalam Injil Markus, kita merenungkan sikap orang-orang ketika mendengarkan Yesus yang mengajar. Di akhir kutipan tertulis, “Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.”
Firman Tuhan ini membuat kita bermenung tentang beberapa hal:
- 1) Sejauh manakah kita memberi ruang dan waktu untuk mendengarkan pembicaraan orang lain; Bukan hanya ketika mereka berbicara, pidato atau menasihati, melainkan juga ketika mereka berkisah tentang cerita sedih dan duka di saat-saat sulit seperti ini?
- 2) Apakah aku telah jadi seorang pembicara yang baik dan sopan, seorang pencerita yang benar dan jujur, dan seorang penasihat yang bijak dan berwibawa, sehingga orang lain mendengarkanku dengan penuh minat dan hikmat?
- 3) Sejauh manakah aku telah jadi pelaksana dari cerita, khotbah dan nasehatku sehingga pantas jadi panutan dan teladan dalam hidup orang lain?
Mari kita belajar mendengarkan sebelum berbicara; berbuat banyak daripada berbicara; dan jadi teladan daripada menasihati orang lain dengan kata-kata.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

