“Ketika kita merenungkan sebuah hati yang penuh kasih sayang, Hati Yesus yang lemah lembut dan penuh cinta, seakan kita melihat di cermin hatimu dan hatiku yang telah ternodai oleh pengkhianatan, balas dendam, amarah, dengki dan hati yang mandul serta matinya hati nurani kita.”
Pertanyaan utama yang kita renungkan di Hari Raya Hati Kudus Yesus ini adalah, “Mengapa terjadi kekacauan, pengkhianatan, ketidakadilan, kekerasan kejahatan dan dosa?”
Jawabannya adalah bukan karena orang tidak lagi memiliki hati nurani atau hilang serta matinya hati nurani manusia, melainkan karena orang enggan mendengar bisikan suara hati atau suara Tuhan. Karena kepentingan kelompok atau pribadi, uang dan harta, pangkat dan kedudukan, sehingga orang rela membisukan, bahkan mematikan nuraninya sendiri demi semuanya itu.
Pada Hari Raya Hati Kudus Yesus ini, ketika kita menyadari akan mandul, rusak dan matinya hati nurani kita, maka sejenak kita berdiam dan mendengarkan kembali suara Hati Kudus Yesus yang memanggil dan mengundang kita, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullak kuk yang Kupasang dan belajarlah daripada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
Inilah kesempatan bagi kita untuk bercermin dan memperbaiki hati kita yang telah rusak dan mandul. Peluang bagi kita untuk belajar dari Hati Yesus yang selalu mengalirkan cinta, belas kasihan, dan pengampunan.
Ketika kita berusaha, bersiaplah agar Tuhan mengambil hati yang keras, membatu, dan menggantikan dengan hati yang lemah lembut serta penuh kasih sayang.
Percayalah, ketika kita mau berubah maka orang akan melihat dan merasakan kasih Tuhan melalui kita.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

