“Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7: 2).
Apa hubungan antara melihat, mengukur, dan menghakimi? Ketika melihat sesuatu, kita sering kali langsung mengukurnya dengan standar pribadi. Dari ukuran itulah lahir penilaian, dan penilaian itu dapat berubah jadi penghakiman. Padahal, ukuran yang kita gunakan kerap dipengaruhi oleh ego dan perasaan, sehingga jauh dari sikap objektif.
Kita mudah melihat selumbar di mata orang lain, tapi tidak menyadari balok di mata sendiri. Kesalahan kecil sesama tampak jelas, bahkan jadi bahan pembicaraan, sedangkan kesalahan diri sendiri sering diabaikan. Tanpa sadar, kita menempatkan diri sebagai hakim dan merasa lebih benar daripada orang lain.
Yesus mengingatkan, bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain akan diukurkan kembali kepada kita. Karena itu, kita diajak untuk terlebih dahulu bercermin, mengakui kelemahan dan dosa pribadi, serta belajar bersikap rendah hati.
Marilah kita berkomitmen untuk melihat dan menilai dengan ukuran Tuhan, yaitu kasih. Kita dipanggil bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengasihi dan menolong sesama.
Sr. M. Stevane, P. Karm
Senin, 22 Juni 2026
2 Raj 17: 5-8.13-15.18 Mzm 60: 3-5.12-13; Mat 7: 1-5
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

