“Air mata adalah bahasa yang tak terungkap dalam kata, tapi rangkaian ribuan kata dari rasa.” -Rio, Scj
Di ruang ICU rumah sakit ada aturan yang terdengar kejam. Jika keluarga membesuk lalu menangis di depan pasien, petugas bisa meminta mereka ke luar dari ruangan. Sekilas aturan itu terasa tidak manusiawi. Bukankah menangis itu wajar, saat melihat orang yang kita sayangi sedang berjuang. Kenapa dilarang!
Ada satu hal yang keluarga pasien tidak sadari. Banyak pasien ICU masih bisa mendengar suara. Mengenali orang-orang terdekatnya. Bahkan pasien itu masih bisa merasakan suasana di sekitarnya. Ketika mereka mendengar keluarganya menangis, tubuh mereka bisa ikut merespons. Detak jantung berubah, napas jadi tidak tenang, dan kondisi yang tadinya stabil bisa terganggu.
Hal ini mirip dengan kondisi, apabila pasien A tiba-tiba emergency, pasien B detak jantung bisa ikut berubah, hanya karena suasana ruangan itu berubah. Itulah kenapa di ICU, jika ingin menangis menangislah di luar ruangan. Saat berada di samping pasien bawalah ketenangan. Pasien ICU tidak butuh drama, mereka butuh kestabilan. Ketenangan dan kegembiraan adalah bentuk cinta yang paling aman.
Pesan sederhana untuk kita: bagilah kegembiraan dan senyuman, itu bentuk kasih yang aman. Jadilah berkat, karena kita memperoleh dengan cuma-cuma bagilah dengan cuma-cuma pula. Menangislah dalam kesendirian, karena itu yang akan menyembuhkan. Hidup bukan drama, tapi tindakan nyata. Hidup ini memang tidak mudah, tapi air mata adalah bahasa yang tak terucap dalam kata, tapi rangkaian ribuan kata dari rasa.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

