Bertumbuh dalam Kasih

“Apa yang terjadi, ketika menaati peraturan itu menjadi lebih penting daripada mengasihi orang yang ada di hadapanku?”
Allah yang Maha Rahim,
Dalam Injil (Luk 14: 1-6), Putra-Mu sedang makan di rumah seorang pemimpin Farisi pada hari Sabat. Seorang yang menderita busung air datang ke hadapan-Nya. Para pemimpin agama mengamati Yesus dengan saksama, menunggu apakah Ia akan menyembuhkan orang itu pada hari Sabat. Namun, Yesus melihat sesuatu yang seolah-olah tidak ingin mereka lihat: seorang manusia yang menderita dan membutuhkan belas kasih.
Yesus bertanya, apakah menyembuhkan orang pada hari Sabat diperbolehkan? Ketika tidak seorang pun menjawab, Ia menyembuhkan orang itu dan menyuruhnya pergi. Melalui tindakan ini, Yesus menyingkapkan hati hukum-Mu: kekudusan tidak pernah menjadi alasan untuk menahan kasih. Hari Sabat diberikan untuk menjadi berkat, bukan untuk menghalangi perbuatan baik.
Bapa, betapa mudahnya aku menjadi seperti mereka yang hanya mengamati Yesus! Aku dapat mengetahui perintah-perintah-Mu dan membela apa yang benar, tetapi gagal bersukacita, ketika orang lain menerima kebaikan-Mu. Bahkan, aku mungkin merasa kesal, ketika Engkau memberkati seseorang yang tidak kusukai. Jika kebahagiaan orang lain justru mengusik hatiku, itu saatnya aku perlu memeriksa kembali kasih di dalam diriku.
Santo Paulus mengingatkan, bahwa kasih harus terus bertumbuh dalam pengetahuan dan pengertian, agar aku mampu membedakan apa yang sungguh berharga dan menjadi murni serta tak bercela pada hari Kristus. Namun, pertumbuhan ini tidak hanya bergantung pada kekuatanku. Engkaulah yang telah memulai pekerjaan baik dalam diriku, dan Engkau pula yang akan menyelesaikannya.
Yesus, melalui diri-Mu, aku melihat, bahwa kewibawaan-Mu adalah kewibawaan kasih Ilahi. Engkau tidak menunggu seseorang yang menderita mengungkapkan kebutuhannya dengan sempurna sebelum menunjukkan belas kasih. Engkau melihat kebutuhannya dan bertindak dengan penuh kerahiman.
Bapa, lanjutkanlah karya-Mu dalam diriku. Lembutkanlah hatiku, ketika penghakiman membuatku tidak peka terhadap penderitaan sesama. Ajarilah aku untuk tidak hanya membedakan apa yang diperbolehkan, tapi juga mengenali apa yang dituntut oleh kasih. Jangan biarkan aku memakai kebenaran sebagai alasan untuk bersikap acuh tak acuh atau memakai agama untuk menyembunyikan hati yang keras.
Semoga kasihku semakin bertumbuh melalui rahmat Kristus, sampai perkataan dan perbuatanku menjadi berkat bagi sesama dan kesaksian nyata tentang kerahiman-Mu.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.