Di Bawah Sayap

Induk ayam berubah watak, kalau ada bahaya. Elang melintas, dan seluruh halaman ribut. Ia merentangkan sayap, mengeluarkan suara panggilan, dan anak-anaknya berlarian masuk ke kolong sayap itu. Tubuhnya sendiri yang menjadi tameng.

Gambar itulah yang dipilih Yesus, ketika menangisi kota yang dicintai-Nya: Yerusalem, Yerusalem, berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tapi kamu tidak mau.

Tiga kata terakhir itu yang paling pedih: kamu tidak mau. Bukan Allah yang kurang rindu. Bukan sayap-Nya yang kurang lebar. Anak-anaknya yang memilih berkeliaran, merasa sanggup menghadapi elang sendirian.

Yesus sedang diancam. Herodes hendak membunuh-Nya, kata orang-orang Farisi. Jawab-Nya tenang: Aku harus meneruskan perjalanan-Ku. Ia tahu Yerusalem akan memperlakukan-Nya seperti para Nabi sebelumnya. Toh Ia tetap berjalan ke sana. Induk ayam sejati tidak lari dari elang; ia justru memasang badan. Di salib kelak, sayap itu terentang selebar-lebarnya.

Paulus mengingatkan, bahwa hidup ini memang medan perjuangan, maka kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah. Tapi senjata pertama orang beriman sederhana sekali: mau. Mau pulang, mau berlindung, mau dikumpulkan.

Tuhan, aku sering merasa kuat sendirian. Hari ini aku pulang ke bawah sayap-Mu. Amin.

(Doa Katolik – KAS – Kamis, 29 Oktober 2026)