Simfoni Purnama di Tanah Air
Mosaik Serpihan Kelana -89
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

1.
Kobar api yang membakar alam tanah air masih membara
Kabut asap pekat yang menutup nasib bangsa masih menyiksa
Maka…
jeritan galau para korban terus menggema
Maka…
margasatwa dan ekosistem masih mengenaskan merana
Entah sampai kapan segera padam kerakusan para pelaku
Entah seperti apa wajah tanah air ke depan
2.
Waktu berjalan hampir mengakhiri Oktober
Rupanya doa pasrah para korban mengetuk pelataran istana Bapa Angkasa
Mungkin irama balada margasatwa dan ekosistem didengar Ibu Bumi
Perlahan langit turunkan hujan melerai pekatnya kabut asap
Purnama hadir di akhir Oktober mengobati luka derita alam
Inikah hukum semesta sedang menggugat manusia?
3.
Kudengar simfoni jagat mengalun perlahan menyeka air mata para korban yang lara merana
Denting melodi instrumen alam terbawa angin sepoi membalut luka dan tanya misteri
Ketika hukum manusia dijadikan serpihan arang oleh kerakusan
Ketika aturan adat budaya dan agama dihanguskan selera gengsi menjadi serpihan debu
Sang Ilahi pasti menegakkan hukum semesta untuk mengadili ketamakan dan kegilaan manusia
4.
Simfoni Purnama seperti samar di balik kabut asap pekat angkasa
mungkin hanya beberapa pasang telinga sahaja yang peduli mendengar
Alunan nada jagat dan irama semesta
mungkin tak banyak pribadi yang menghiraukan
Tetapi…
Gelegar gemuruh dan kilatan petir
pasti segera membawa musim hujan tiba
Gempa bumi yang terus mengiringi irama waktu
tak ada yang malu menghetikan
Dentuman gunung api yang meletus di tanah air
tak ada yang tahu pasti dan bisa membatalkannya
5.
Simfoni Purnama di tanah air bukan kreasi insani dan inovasi manusia
Itu terjadi nyata dan maknanya penuh misteri
tak peduli manusia mau mendengar atau mengabaikannya
Tak juga membutuhkan takhta kuasa, harta dan nafsu selera
Hukum alam tak bisa diajak berkomplot dengan koruptor, politisi busuk dan pebisnis rakus tamak
Musik angkasa dan irama nada alam jagat terus bergema
Adakah ini pengadilan Sang Ilahi dengan kekuatan hukum semesta?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.