Serpihan Jejak Musyafir – 138
Serpihan Puing Rindu

Simply da Flores

Bibir ombak tersenyum
hempaskan buih-buih rindu
membelai wajah pasir pantai
Adakah rinduku seperti ombak?
Mungkin samudra bisa menjawab

Lidah api nyala membakar
pada tungku damba sanubari
Kayu hangus menjadi arang dan abu
Adakah rinduku api atau arang debu?
Mungkin tungku bisa bercerita

Ranting pohon kering dan patah
menjelma bersama daun kering
gugur di padang dan hutan rimba
Margasatwa hilir mudik di rambutku
Apakah rinduku ranting dan daun kering ?
Mungkin cacing tanah berkisah

Awan berarak dan terbang sirna
Ada yang menjelma jadi hujan
Ada yang ditelan rasa nestapa
Ada juga yang diinjak telapak damba
Apakah rinduku awan dan hujan?
Mungkin angin yang tahu jawabnya

Ketika rindu itu berpadu
Awan, hujan, ranting dan daun kering
Nyala api dan bara, arang dan debu
Berkumpul dengan pasir pantai
dan dibasuh buih ombak samudra
Maka…
damba nurani dan harapan jiwa
diterbangkan angin sepoi dan badai
jiwa sanubari merana sepi

Rindu… damba…
Entah ke mana…
Entah pada siapa
Entah sampai kapan
Tinggallah serpihan puing-puing
pada jiwa raga yang galau
merana dalam titian waktu