Berdamai dengan Lawan

“Berdamai dengan lawan atau musuh itu bukan menampilkan sisi lemah kita, melainkan mencerminkan kelembutan hati yang ingin hidup damai dan tenang.”
Kecenderungan manusiawi kita adalah menghabisi lawan atau musuh kita. Terhadap para musuh atau lawan, muncul hasrat besar untuk mematikan mereka.
Yesus memberikan nasihat agar kita memadamkan api dendam dan marah itu dengan cinta dan damai. Kata-Nya, “Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara.”
Dengan Firman di atas, kita disadarkan, bahwa:
- Sama seperti bukan gelap yang mengusir gelap, hanya terang yang bisa, maka bukan dendam yang mampu melenyapkan dendam, melainkan hanya cinta yang mampu melenyapkan dendam;
- Kedamaian adalah nilai tertinggi kehidupan. Bila Anda mencintai kehidupan manusia, hendaklah kedamaian itu diusahakan oleh setiap orang dan kelompok;
- Kedamaian bukan atribut orang lemah dan takut, melainkan karakter orang kuat, tapi sangat lembut hatinya.
Akhirnya, berjuanglah untuk menjadi pembawa dan pencipta damai di mana pun Anda berada dan ke mana pun Anda pergi.
Monsignor Inno Ngutra, Pr
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.