Kita Dipanggil untuk Berbuah

“Jika akhirnya kita mati, karena iman akan Kristus, bersyukurlah. Mahkota kemuliaan surgawi telah menanti. Untuk zaman ini, kita dipanggil bukan untuk mati, melainkan untuk hidup dan menghidupi orang lain.”
Santo Laurensius yang pestanya dirayakan hari ini, karena keberaniannya terhadap kelaliman penguasa Kaisar Valerian. Ia yang diminta untuk menyerahkan harta benda Gereja itu datang dengan sejumlah besar orang miskin dan cacat dari kota Roma. Ia menyerahkan kepada Kaisar sebagai harta benda Gereja yang dilayani. Akibat keberaniannya itu, ia dibakar hidup-hidup.
Kita disadarkan, bahwa:
- 1) Harta benda Gereja yang sesungguhnya adalah manusia; bangunan, sarana, dan peralatan lainnya itu sebagai barang memang diperlukan dalam pelayanan, tapi fokus utama para pelayan adalah memanusiawikan manusia, umat yang dilayani;
- 2) Berkorban demi iman akan Kristus tidak selamanya dengan mencurahkan darah atau menyerahkan nyawa. Bila itu terjadi maka bersyukurlah. Akan tetapi yang diminta Tuhan adalah kita melayani Dia lewat sesama, yang miskin dan cacat, terasing dan kesepian, serta yang tersisikan dan terpinggirkan;
- 3) Jika kita melakukan semua itu dengan tulus, bersyukurlah, karena tempat yang dijanjikan oleh Yesus akan jadi milik kita kelak. Sehingga terpenuhilah sabda Yesus, “Barang siapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku, dan di mana Aku berada, di situ pelayan-Ku berada.”
Akhirnya sadarlah, ketika berkorban untuk Tuhan di dunia ini, maka di akhir hidup kita akan mendapatkan kehormatan Bapa, yakni Surga yang jadi milik kita.
Monsignor Inno Ngutra, Pr
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.