Derik Cakar Ketakutan

Mosaik Serpihan Kelana -67
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Langkahku menyusuri kampung tua
Ada tempat ritual adat terpatri
bulu kudukku merinding entah kenapa
Kusimpan takutku dalam diam bisu
karena tak boleh bertanya menelisik
apalagi sedang mengikuti ritual sakral
dengan bahasa mantra yang juga tak semua kupaham
namun harus kujalani karena tradisi adat budaya
Saat melintas kuburan dan hutan keramat
atau sempat berteduh di bawah pohon beringin besar
sering ada tanya menikam rasa
biasa ada gugatan menyayat nalar
Mengapa ada ketakutan terus menghantui
seperti ingatan kisah cerita masyarakat
tentang hantu, alam gaib dan dunia yang tak kelihatan
Namun…
hanya sepi yang menjawab galau
hanya sunyi yang menemani kelana

Kata bahasa warisan para tetua
telah tercatat dalam lembaran jiwa raga
Kisah cerita para leluhur diwariskan dalam nafas dan desir darah
Tentang adanya Tuhan yang harus disembah
dengan aneka nama dan bahasa Alkitab
Tentang aturan dan larangan untuk melangkah dan berbicara
Tentang nasib jiwa setelah mati ke Surga atau Neraka
Tentang kewajiban dan pahala sebagai umat beriman
Tentang berbagai panduan ibadah dan tata cara berdoa
Dan…
Waktu mengiring langkahku dalam tanya sakral
saat menelusuri ruang perbedaan dan fakta adanya beragam kepercayaan dan agama
Ada berapa banyak Tuhan dan sosok Sang Ilahi
Seperti apa dan siapakah Dia Yang Maha Segalanya

Dalam derik cakar ketakutan
yang mencengkram ziarah jiwa raga
Sering pikiran berontak ingin lari membebaskan diri
Biasa ada rindu damba memiliki sayap nalar
untuk terbang ke angkasa menemui mentari bulan serta aneka planet dan bintang
Aku juga ingin menyelam dan bertanya kepada asinnya samudra
Mengapa manusia diwariskan penjara kata bahasa dan derik cakar ketakutan
Apakah bertanya tentang tradisi adat budaya adalah aib dan kejahatan hakiki
Adakah menelisik ajaran agama dan warisan iman adalah laknat dan dosa
Haruskah berkelana memikul diam abadi dalam derik cakar ketakutan

Zaman berinkarnasi menyibak tirai tabu bagi pikiran
Kemajuan iptek dengan sarana informasi digital memberi sayap energi bagi nalar
Aku berani bicara pada jiwa ragaku
untuk patahkan cakar ketakutan
dengan terus belajar mencari jawaban tanya
Aku kepakkan sayap dan coba terbang
membuka tabir ketakutan dengan mencerna aneka catatan pengalaman
Ternyata…
Kata bahasa itu kaya sekaligus terbatas
untuk mengatakan semua pengalaman kita manusia
Rupanya realitas kehidupan lebih luas dari kemampuan pikiran dan pengalaman
Sejatinya diriku, sesama dan alam semesta adalah fakta yang penuh misteri
Maka…
derik cakar ketakutan hanya belenggu ilusi
jika nalarku berani belajar dan mau berubah
ketika pikiran dirawat sehat, waras dan bijaksana