Catatan Pinggir Seorang Pemulung

Mosaik Serpihan Kelana -44
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Orang-orang menyebut aku pemulung
aku dan kaumku adalah kawanan terbuang
Tetapi…
Aku bangga menyebut diri seorang kreator
sebab mampu mengubah sampah menjadi harta
Aku kagum pada kemampuanku sebagai inovator
sebab bisa melihat rezeki dalam barang yang terbuang
Mungkin kerjaku seperti binatang jalang
Atau nasibku seperti ombak gelombang
yang tak berhenti berjuang memeluk pasir pantai yang tenang

Dengan alat sederhana apa adanya
aku datang menjumpai sampah manusia
Entah aneka plastik bekas yang terhambur
Entah alat-alat elektronik yang terlempar
Entah rongsokan perabot rumah tangga, kantor dan pabrik
Ke mana pun aku harus berkelana telusuri
untuk mencari dan mengumpulkan sampah dan rongsokan
Karena ada penadah yang tahu mendaur ulang
Karena ada manfaat dari sampah yang terbuang
Karena kebutuhan hidup yang mendesak dan menerjang

Aku ini disebut seorang pemulung
Pendapatanku memang tidak tentu nasibnya
karena sampah yang kutemukan pun tidak pasti jumlahnya
Mungkin aku seperti pemburu di padang dan hutan belantara
Mungkin nasibku seperti seorang nelayan sederhana
Mungkin juga seperti para pengamen jalanan dan pengemis
Berbekal tekad baja dan puing keyakinan
aku berjuang mengais rezeki dari serpihan manfaat yang terabaikan
karena akhirnya harus membuat pilihan dan keputusan

Aku mengais rezeki dari sampah yang terbuang
karena goresan nasibku sebagai pemulung
dalam gelora zaman yang bergelombang
Sampah dan serpihan puing laksana sawah ladang
meskipun tidak menabur tetapi aku memanen dari rongsokan yang terbuang
Waktu kerjaku tak peduli malam atau siang
banyak kali irama langkah kaki hanya dipandu insting dan untung
Mungkin kelana perjuanganku seperti nyanyain nasib burung
hanya kerja dengan keyakinan dan pasrah pada Sang Hyang Penyayang