Mengasihi Tanpa Sekat

“Menjadi sesama itu tidak dengan memilih mereka yang layak dikasihi. Melainkan mengasihi sesama seperti Kristus mengasihi kita.”

Allah yang Maha Rahim,
Seorang ahli Taurat bertanya kepada Putra-Mu, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Yesus menuntunnya menemukan jawabannya sendiri: mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Ia bertanya, “Siapakah sesamaku?” Yesus menjawabnya dengan kisah orang Samaria yang murah hati.

Bapa, mungkin kami perlu melihat kisah ini bukan pertama-tama sebagai orang Samaria, melainkan sebagai orang yang tergeletak terluka di pinggir jalan.

Ia tidak berdaya. Ia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi seseorang datang mendekat, melihat lukanya, tergerak oleh belas kasih, membalut dan merawatnya, lalu membawanya ke tempat yang aman.

Orang Samaria itu adalah gambaran Kristus sendiri. Kami adalah orang yang terluka. Yesus tidak melewati kami begitu saja.

Ia datang mendekat, ketika kami jatuh dalam dosa, hati kami terluka, atau kami lemah dan tidak mampu bangkit. Ia mencurahkan minyak pengampunan dan anggur rahmat-Nya. Dengan Darah-Nya yang Kudus, Ia menyembuhkan dan memulihkan kami, lalu membawa kami ke dalam Gereja, tempat kami terus dirawat oleh kasih dan rahmat-Nya.

Itulah belas kasih yang Engkau percayakan kepada St. Faustina untuk diwartakan: agar kami mengenal belas kasih-Mu, percaya, dan menjadi pembawa belas kasih-Mu.

Bapa, setelah kami menerima belas kasih-Mu, jangan biarkan kami berlalu begitu saja. Bukalah mata kami untuk melihat mereka yang terluka di sepanjang jalan hidup kami: pasangan, anak, orang tua, saudara, teman, rekan kerja, orang asing, bahkan mereka yang sulit kami kasihi atau yang kami takuti.

Jangan biarkan kami bertanya, “Siapa yang pantas menerima kasihku?” Tapi ajarlah kami bertanya, “Bagaimana aku dapat menjadi sesama bagi orang ini?”
Sebab Putra-Mu berkata, “Pergilah, dan perbuatlah demikian.”

Bapa, biarlah kasih dan kerahiman-Mu mengalir melalui kami, sehingga setiap orang yang kami jumpai dapat mengalami sedikit dari hati Yesus yang Maha Rahim.

Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)