Proses Menciptakan Hasil

Semua orang mengalami dan memiliki banyak hasil di dalam hidup. Ada seorang Bapak yang saat ini dapat menikmati hidup bersama keluarga di rumah sendiri dengan kehidupan yang cukup dan nyaman. Jika kita mengikuti kisah hidupnya sebagai seorang perantau, dari awal mulai bekerja hingga sebelum menikah dan berkeluarga, prosesnya sangat memprihatinkan.
Ia mengawali karirnya dengan menjadi kuli bangunan, berpindah menjadi kernet, berganti lagi ke penjual jalanan, dan terakhir menjadi sopir. Berkat keuletannya, ia mampu membeli mobil, dan akhirnya dapat membangun sendiri rumahnya. Kini beberapa mobilnya menjadi transportasi travel. Ia juga mempekerjakan beberapa karyawan. Semua itu dilalui dengan proses panjang penuh pengorbanan dan melewati banyak kesulitan.
Nabi Ayub memiliki pengalaman hidup sulit yang menjadi bagian dari proses pertumbuhan imannya. Pesimisme yang ditunjukkan itu seolah-olah menggambarkan, bahwa ia ingin lari dari semua permasalahan hidupnya. Bahkan dalam titik paling ekstrem kesulitan hidup, ia minta supaya nyawanya segera dicabut oleh Tuhan.
Kisahnya membuka banyak sekali gambaran sisi keputusasaan yang sedang diderita oleh manusia di dunia saat ini. Mereka tidak tahan dengan beban hidupnya, dan ingin menyelesaikannya dengan kematian dalam keputusasaan.
Ayub tidak lari dari masalah, juga tidak menjauh dari Tuhan. Ini juga mewakili keadaan kita yang nyata. Banyak sekali di antara kita yang bertahan dalam kesulitan dan beban hidup yang berat, tapi kita tidak lari dari masalah dan menjauhkan diri dari Tuhan. Hal ini sangat berguna, karena kemampuan kita untuk bertahan akan menjadi modal dan pegangan kita. Pada saat masalah itu berlalu pergi bersama waktu, modal itu menjadi kesiapan mental-rohani kita untuk menikmati hasil-hasilnya. Kiranya kita menjadi seperti Ayub, yang mengalami pembaharuan iman dan kembali memandang Tuhan dengan cara yang berbeda dari pada sebelumnya.
Para Rasul dan murid-murid diutus Yesus sebagai domba-domba di tengah kawanan serigala. Dapat dibayangkan betapa sulitnya mereka dalam proses untuk menjadi pengikut-pengikut Tuhan yang tangguh dan ulet. Mereka pasti takut dan berada di ambang keputusasaan. Tapi mereka juga yakin, bahwa mereka membawa senjata kasih dan kebijaksaan dari Yesus. Mereka disertai. Sehingga ketika kembali, mereka melaporkan betapa berhasilnya mereka dalam mengatasi berbagai kesulitan dan halangan yang menghadang. Hal itu memang benar adanya, hasil yang baik sangat ditentukan oleh sebuah proses yang baik pula.
“Ya, Yesus, semoga kami selalu kuat dalam menghadapi setiap tantangan dan kesulitan hidup ini. Jadikanlah kami senantiasa berpengharapan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.