Hidup Bermakna dalam Kasih

“Mana yang lebih penting: berkata ‘Ya’ atau melakukan kehendak Bapa?”
Allah yang Maha Rahim,
Dalam Injil, Yesus menceritakan tentang dua orang anak. Yang pertama berkata “Tidak,” tapi kemudian menyesal, mengubah keputusannya, dan pergi bekerja di kebun anggur ayahnya. Yang kedua berkata “Ya, Bapa,” tapi tidak pergi.
Ternyata, Bapa tidak melihat yang kami katakan. Bapa melihat hati yang akhirnya mau melakukan kehendak-Nya.
Bapa, betapa sering aku berkata “Ya” kepada-Mu dengan bibirku, tapi hidupku belum sungguh mengikutinya. Aku bersyukur, ketika aku berkata “Tidak,” Engkau tidak meninggalkanku. Kerahiman-Mu selalu memberiku kesempatan untuk berbalik, bertobat, dan memulai kembali.
Mazmur hari ini menjadi doaku: “Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya, Tuhan, dan ajarlah aku.”
Dalam surat St. Paulus, aku melihat teladan Putra-Mu, Yesus. “Ya”-Nya kepada-Mu bukan sekadar kata. Ia merendahkan diri, taat, dan menyerahkan seluruh hidup-Nya demi keselamatan kami.
Bapa, berilah aku kerendahan hati untuk mengakui kesalahanku, keberanian untuk berubah, dan kepercayaan untuk mengikuti Yesus bekerja di kebun anggur-Mu.
Semoga “Ya”-ku kepada-Mu menjadi nyata dalam pengampunan, kasih, pelayanan, dan ketaatan.
Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.