Berjalan Bersama Tuhan

Hidup adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada kita dan dibatasi oleh waktu yang singkat. Kitab Pengkhotbah mengajak kita untuk selalu hidup selaras dengan zaman dan tidak melupakan Sang Pencipta. Sukacita yang sejati itu bukan terletak pada kebebasan tanpa arah, melainkan pada hidup yang dijalani dengan kesadaran, bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk mengenal dan melayani Allah. Kitab Pengkhotbah berkata, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu.”
Seruan ini menjadi pengingat, bahwa hidup ini akan segera berlalu, dan tubuh yang kuat pun akan melemah. Selagi masih ada waktu, marilah kita hidup dengan tujuan yang benar, tidak menunda untuk bertobat dan berjalan bersama Tuhan.
Dalam Injil, Yesus yang melakukan banyak mukjizat berbicara tentang penderitaan-Nya yang akan datang. Murid-murid-Nya tidak memahami perkataan itu, bahkan takut untuk bertanya. Hal ini menunjukkan, bahwa rencana Allah sering kali melampaui pikiran dan harapan manusia.
Jalan salib yang dipilih Yesus menunjukkan, bahwa kemuliaan tidak selalu datang melalui kemenangan duniawi, tapi melalui pengorbanan dan ketaatan. Sama seperti murid-murid, kita pun sering tidak memahami, mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan atau jalan hidup yang sulit. Sedang hidup bijaksana adalah hidup yang sadar akan kefanaannya, serta berserah dalam iman kepada Allah yang rencana-Nya tidak selalu mudah dipahami.
Marilah kita belajar mengenal Tuhan, dan terus belajar untuk percaya, meskipun tidak selalu mengerti. Sebab hanya dalam Dia, hidup menemukan makna sejatinya.
“Ya, Tuhan, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajari kami untuk menghargai waktu, mengenal Engkau sejak muda, dan tetap setia, walaupun hidup ini tidak selalu mudah dimengerti. Bimbinglah langkah kami agar hidup kami selalu berkenan kepada-Mu. Amin.”
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.