Sungkan

“Jika kaki sudah tidak sanggup berdiri, masih ada lutut untuk bersujud.” -Rio, Scj.

Waktu kecil kita sering diajari: kalau ke rumah orang jangan merepotkan. Kalau diberi jangan meminta lebih. Waktu ditolong jangan terlalu banyak menuntut. Inilah yang mungkin membuat kita bertumbuh dalam budaya yang sama yaitu ‘sungkan’.

Sungkan itu bukan takut, bukan malu. Melainkan perasaan yang membuat kita memikirkan orang lain, sebelum memikirkan diri sendiri.

Sungkan itu perasaan tidak enakan, yang membuat kita berpikir dua kali. Kita berpikir dua kali saat mau meminta bantuan, sebelum mengungkapkan isi hati, dan jangan-jangan ini merepotkan. Selalu ada bagian dalam diri yang selalu bertanya ini mengganggu atau tidak, merepotkan atau tidak, senang atau tidak. Mungkin ini sebabnya kita terlalu sungkan, padahal kita sedang mengalami kesulitan.

Kadang di luar terlihat baik-baik dan kuat, tapi sebenarnya rapuh. Kita sedang mengalami kesulitan, berbeban berat, dan membutuhkan bantuan. Hanya karena sungkan akhirnya ditanggung dan ditelan sendiri. Ya, puji Tuhan. Jika kuat, kita pasti ke luar sebagai pemenang, jika tidak kuat pilihannya jelas bunuh diri.

Tidak perlu sungkan meminta bantuan, menceritakan, dan sungkan berlutut di depan Tuhan. Ingat, bila kaki sudah tidak kuat berdiri, masih ada lutut untuk bersujud. Jika Tuhan sudah turun tangan selalu ada jalan terbuka lebar.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj