Entah, ini Salah Siapa….?
Mosaik Serpihan Kelana -38
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Atas nama hak, kebebasan dan kebenaran pribadi
karena didukung kecanggihan sarana iptek
Ada banyak jemari bergaya di sosial media
berani mencaci maki pribadi sesama, kelompok dan lembaga
Ada yang membuka aib keluarga, rekan kerja atau pribadi lain tanpa peduli
Ada yang nikmat menyebar berita bohong dengan kreasi teknologi sebagai data
Bahkan
banyak yang menjadikan sarana iptek untuk melakukan aneka kejahatan demi memperoleh uang dan kepuasan selera
Semua diyakini sebagai hak, kebenaran dan kebebasan pribadi
Dunia dianggap ladang hukum rimba
Atas nama hak, kebebasan dan kebenaran pribadi
dalam kehidupan sehari-hari terjadi
Sering diabaikan nilai etika dan tata krama
biasa disepelekan nilai adat budaya dan agama
Banyak yang menjadikan konten di sosial media untuk bahan hiburan dan lelucon
Banyak yang suka menyebar iri dengki dan ujaran kebencian di sosial media
Ada lagi aturan dilanggar dan dijadikan tontonan di sosial media
Bahkan tentang ajaran agama dan kepercayaan
justru menjadi konten media untuk saling menghina dan diperdebatkan dengan aneka caci maki
Banyak kasus korupsi justru menjadi tontonan di sosial media
bahkan seperti dibanggakan koruptor dengan senyum saat diwawancarai mengenakan borgol dan baju oranye
Sepertinya yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan
Atas nama hak, kebebasan dan kebenaran pribadi
Banyak masalah diselesaikan dengan lahirnya masalah baru
Kata-kata aturan dan hukum tak berwibawa
bahkan sumpah janji jabatan dengan nama Tuhan yang Maha Esa hanya seperti formalitas belaka
Maka terang benderang sandiwara kata dan parade topeng
entah dalam relasi rakyat dan negara
entah dalam relasi sosial ekonomi
entah dalam komunitas adat budaya
bahkan dalam kehidupan agama dan kepercayaan
Zaman telah sedemikian maju pesat mengubah
semua prinsip, nilai, aturan dan tata krama
Yang berkuasa adalah jabatan dan harta kekayaan
yang bisa membeli hukum, sarana iptek dan senjata
Memang dunia adalah panggung sandiwara
Entah siapa pemilik panggung, sutradara dan penulis skenarionya
Atas nama hak, kebebasan dan kebenaran pribadi
Mereka yang nasibnya terlunta-lunta merana menggugat
karena merasa tidak adil dan tertindas hak hidupnya
karena melihat kata janji tidak sesuai kenyataan yang dialami
karena korupsi terus marak dan membudaya
karena hukum tidak berwibawa dan adil bagi seluruh rakyat
Maka rakyat dan mahasiswa terus berteriak menuntut
entah dengan berbagai publikasi di sosial media
entah dengan berdemonstrasi di jalanan atau lembaga negara
entah dengan ragam tindakan anarkis
bahkan ada yang berteriak mau merdeka dan memisahkan diri dari NKRI
Sampai kapankah balada ini berakhir
Kapan akan datang Ratu Adil dan Pemimpin bijaksana bagi rakyat dan bangsa Indonesia
Entah…
Ini semua salah siapa?
Ketika bencana alam melanda di seluruh pelosok tanah air
ada yang diam dan sujud meneliti diri bertobat memohon belas kasih Sang Ilahi
Tetapi ada yang justru menyalahkan rakyat miskin sederhana
bahkan berani menggugat kepada keadilan Sang Ilahi
Ketika banyak kasus sosial ekonomi terjadi
banyak yang salahkan pihak asing bermain
Saat ada kerusakan lingkungan dan pencurian kekayaan alam
juga yang disalahkan adalah kelompok separatis dan pengaruh negara asing
Jika korupsi meraja lela dan utang negara bertambah besar
juga sering terdengar adalah soal intelijen asing dan permainan pebisnis internasional
Maka…
apa dan siapa kita sebagai pewaris bangsa dan negara ini?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.