Jalan Kekudusan

“Kekudusan itu bukan pamer dan membuktikan besaran cinta kita pada Allah. Melainkan mengizinkan kasih Allah mengalir melalui kita.”

Allah yang Maha Rahim,
Dalam Injil, orang-orang Farisi melihat murid-murid Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat. Mereka segera melihat pelanggaran. Mereka terpaku pada aturan. Tapi Yesus mengajak mereka melihat lebih dalam.

Ia mengingatkan mereka akan Daud. Ketika lapar, ia makan roti kudus yang dipersembahkan di hadapan Allah. Lalu Yesus menyatakan sesuatu yang luar biasa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Bapa, Putra-Mu bukan mengajar kami untuk mengabaikan perintah-Mu. Ia mengajar kami, bahwa setiap perintah harus dipahami dalam terang kasih-Mu. Sabat diberikan agar kami kembali kepada-Mu, beristirahat dalam kebaikan-Mu, dan menerima kehidupan daripada-Mu. Bukan menjadi beban yang membuat kami kehilangan belas kasih.

Paulus mengingatkan jemaat Korintus, bahwa segala sesuatu yang mereka miliki adalah pemberian. Hikmat, kemampuan, karunia, bahkan hidup kami sendiri, semuanya kami terima dari-Mu. Karena itu, tidak ada yang dapat kami banggakan, tidak ada yang perlu kami bandingkan, dan tidak ada alasan untuk menghakimi kekudusan orang lain.

Bapa, mungkin inilah wajah kekudusan: Bukan membuktikan, bahwa aku lebih baik, melainkan menjadi semakin kecil dalam kasih. Bukan menggenggam erat apa yang telah aku terima, melainkan membiarkan rahmat-Mu mengalir melalui hidupku. Bukan bertanya, “Seberapa kuduskah aku?” melainkan bertanya, “Kepada siapa Engkau mengutusku untuk mengasihi hari ini?”

Gereja memperkenalkan kembali kepada kami kesaksian St. Teresa dari Kalkuta, seorang kudus zaman modern yang membuat Injil ini nyata. Ia tidak mengejar kebesaran. Ia hanya terus mengatakan ‘ya’ kepada kasih dalam perkara-perkara kecil yang Engkau percayakan kepadanya, terutama melalui mereka yang miskin dan terlupakan.

Bapa, ajarlah kami, bahwa kekudusan bukan tentang terlihat kudus. Kekudusan adalah menjadi tersedia bagi kasih.

Semoga aku menerima rahmat-Mu dengan rendah hati, lalu membagikannya dengan murah hati. Semoga aku berhenti membandingkan diriku dengan orang lain dan mulai bertanya: di manakah hari ini Engkau memintaku untuk mengasihi?

Yesus, Engkau Tuhan atas hari Sabat. Ajarilah kami beristirahat dalam Kerahiman-Mu, menerima rahmat-Mu, dan jadi alat Kerahiman-Mu bagi sesama.

Biarlah kekudusanku bukan sesuatu yang ingin kutunjukkan, tapi sesuatu yang dapat dirasakan orang lain melalui kasih yang aku berikan.
Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)