Ketika Bencana Datang Melanda

Mosaik Serpihan Kelana -21
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Ketika bencana datang melanda
Beragam reaksi dan tanggapan berbeda
Para korban menjerit dan meratap lara
karena ada keluarga yang direnggut nyawanya
karena rumah dan harta benda musnah sirna
karena tak menduga dan tak mampu mengelak
karena lara derita tak pernah diundang datang menimpa
Para sesama saudara berbeda-beda sikapnya
ada yang berbela rasa dan panjatkan doa
ada yang ulurkan tangan memberi bantuan
ada yang diam dan galau tak bicara
ada juga tak peduli dan merasa bukan urusannya
Sedangkan para pejabat dan yang kaya raya
juga mempunyai sikap dan reaksi berbeda-beda
ada yang segera turun membantu dan mencari solusi
ada yang berdiplomasi dan berargumentasi
ada yang menjadikan ajang pencitraan mewakili organisasi dan perusahaan
ada yang tulus beramal tanpa publikasi
Tetapi…
ada juga yang menjadikan bencana sebagai ajang politik dan lahan bisnis
“Sengsara korban bencana membawa nikmat”

Ketika bencana datang melanda
Alam ternyata menegaskan pesan dan hukum semesta
Kita manusia hanya pengemis papa
segalanya hidup bergantung mutlak pada jagat semesta
Kita bukan penguasa dan pemilik alam ini
Kecanggihan ilmu dan teknologi manusia tidak mampu mengatur hukum jagat semesta
Banyak bencana alam datang tak terduga
dan bisa merenggut nyawa serta habiskan harta benda
Keaslian sikap pribadi terlihat dan teruji saat menghadapi bencana alam
Dan…
Sering Sang Pemilik jagat semesta digugat dan ditagih
agar memberi ampun serta pertolongan
Ada deklarasi ketakberdayaan manusia di hadapan alam jagat semesta
Meskipun masih banyak yang sombong dan merasa hebat sebagian tuan dan Tuhan
karena mempunyai kuasa dan harta

Ketika bencana datang melanda
bukan dikirim oleh alam jagat raya
tetapi bencana ketidakadilan dan kemiskinan
hasil kreasi oleh segelintir manusia
Maka…
ada parade sosok wajah berbeda-beda
Antara yang mempunyai kuasa, jabatan, harta dan senjata
dengan para korban yang sederhana, miskin dan tak berdaya
Para pejabat koruptor akan tampilkan kekuasaannya dengan anak-anak cara penuh wibawa
Para politisi busuk pandai berargumentasi dengan janji manis dan diplomasi tengok
entah di media sosial atau di panggung politik
Para pebisnis rakus tamak terbahak penuh bangga
karena bisa perintahkan pejabat koruptor, politisi busuk untuk membungkam rakyat
apalagi mampu mengerahkan angkatan berwenjata untuk bertindak atas nama negara
Sedangkanโ€ฆ
para cendekiawan biasanya sedikit yang berani, tetapi kebanyakan diam mengamankan nasib diri dan keluarganya
Para tokoh adat budaya dan tokoh agama galau
antara membela rakyat atau harus menjadi oportunis dengan aneka alasan
Generasi muda coba berbicara dan bergulat dalam galau
lalu perlahan diam karena tak berdaya

Ketika bencana datang melanda
Banjir informasi menerjang halaman media sosial
karena sekarang zaman digital milenial
Ada berita dari pihak berwenang tentang fakta kejadian bencana
Ada kabar jerit tangis lara derita dari para korban
Ada kisah cerita mereka yang peduli mencari solusi dan membantu para korban
Ada polemik dan debat kusir para komentator dan konten kreator
Ada siaran para pelaku pertolongan atas nama pemerintah, organisasi sosial, partai politik dan badan usaha negara atau swasta
Bencana alam jadi konten viral di sosial media
dan ada ragam sikap dan reaksi setiap pribadi
Entah sesuai selera dan kepentingannya
Entah menurut kelompok dan relasi pribadinya
Entah demi kemanusiaan dan solidaritas sosial
Bencana alam dan bencana kemanusiaan terjadi
dan pasti terus terjadi selama manusia hidup

Ketika bencana datang melanda
Ada banyak potret sosok wajah pribadi dan kelompok
untuk menyelematkan harkat pribadinya di hadapan fakta bencana yang datang melanda
Jati diri manusia dan pilihan pribadi
pasti lebih asli terungkap
ketika bencana hadir di hadapan kita
Apa dan siapa diriku dan dirimu
Bagaimana pilihan
setiap pribadi
jauh lebih asli tertulis
ketika keharusan menghadapi ketakberdayaan dan batas kemampuan
Saat bencana alam dan bencana kemanusiaan hadir
sering ada ungkapan spontan memanggil Sang Ilahi
Biasa banyak doa permohonan kepada Sang Pemilik kehidupan dan alam jagat raya
Bahkan ada yang putus asa menggugat
“di manakah keadilan Sang Maha Adil
mengapa kami yang harus tertimpa bencana ini”
“Mungkin,
kita memang memerlukan banyak bencana
dan lebih sering lara derita dalam kehidupan
Agar tahu dan sadar siapa diri kita”