Salah Pilihan

“Tidak seorang pun yang luput dari berbuat salah. Tapi menyesali pilihan yang salah itu konyol.” -Mas Redjo

Nasi telah jadi bubur. Tapi bubur itu jangan disia-siakan, apalagi dibuang mubazir. Lebih bijak bubur itu disantap sendiri, atau mungkin dapat diberikan pada orang yang membutuhkan.

Sederhana, tapi realita. Kita tentu pernah melakukan kesalahan, tepatnya salah pilih. Ketika kita membeli barang konsumtif, memilih pemimpin, atau memilih pasangan hidup. Apa yang harus kita lakukan?

Salah membeli suatu barang itu di antaranya dipengaruhi kita asal membeli, kurang mengetahui kegunaannya, atau kita terpesona dengan rayuan penjualnya yang ‘ehem’ itu sehingga ‘keblondrok’.

Begitu pula dengan kita yang salah pilih pemimpin. Karena silau dengan penampilan dan terbius janji manis. Ibaratnya kita memilih kucing dalam karung, dan menyesal belakangan itu juga tiada guna.

Ketika salah membeli barang atau memilih pemimpin yang kualitasnya jauh dari harapan. Sejatinya kita diingatkan agar lebih “teliti sebelum membeli.”

Ketimbang barang yang kurang berkualitas itu ditaruh di gudang atau dibuang, lebih baik diberikan pada orang yang membutuhkan, dan lebih bermanfaat.

Berbeda dengan memilih pemimpin. Salah memilih berarti kita juga ikut bertanggung jawab. Tidak dengan menghujat, mendendam, dan gaduh. Tapi untuk mendoakannya. Kita mohon ampunan Allah agar ia sadar diri, karena hanya Allah yang mampu mengubah hatinya.

“Bagaimana, ketika kita salah pilih pasangan hidup?”

Sejatinya pertanyaan itu datang dari ego sendiri. Coba resapi dan hidupi Firman-Nya;

“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19: 3-12).

Pernikahan itu perjanjian kudus yang mencerminkan kasih Kristus pada jemaat-Nya agar kita setia, mengampuni, dan bertahan untuk melewati badai kehidupan.

Tetaplah rendah hati untuk selalu melibatkan Tuhan, dan jadilah saksi kesetiaan-Nya!

Mas Redjo