Nafas Romantisme

*Menafasi keluarga dengan romantisme, jika tidak berarti kita menyia-nyiakan rahmat Tuhan.” -Mas Redjo

Jika orang bersemboyan, “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali” itu adalah hak setiap pribadi. Tapi tidak layak diikuti. Menunda, jika dibiasaan membuat kita jadi pemalas, dan itu mengecewakan hati Tuhan yang menganugerahi hidup ini.

“Adalah kekeliruan besar dan tiada guna, jika menyesal itu belakangan. Karena kita telah menyia-nyiakan rahmat Tuhan.” Inti homili Pastor dalam Misa ‘In loving memory’ 2 tahun Mas AS itu membuat saya menekur untuk refleksi diri.

Faktanya, banyak orang menyebut pribadi yang meninggal itu dekat dengan kita sebagai “Yang Ter… kasih, sayang, cinta…” dan banyak ‘ter’ lainnya. Berbeda faktanya, ketika orang yang bersangkutan itu masih hidup diperlakukan biasa-biasa saja.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita terbiasa menyebut pasangan dengan… yang terkasih, tersayang, atau tercinta …? Sebutan yang sama juga dilakukan untuk anak- anak kita?

Alangkah bijak, jika panggilan ‘yang ter…’ itu dimulai dari sekarang, untuk anggota keluargamu, saya, dan kita. Sebagai ungkapan kedekatan, kemesraan, dan kasih kita dengan anggota keluarga.

Nafasi keromantisan itu seperti dulu, ketika kita menjalin hubungan dan berpacaran dengan Doi agar kemesraan itu tidak berlalu dan hilang, tapi makin mengakar kuat. Sehingga buah-buah romantisme nan indah itu juga dipanen oleh anak-anak kita.

Tidak cukup semangat romantisme itu sebatas di kata-kata, tapi untuk dihidupi lewat sikap dan perhatian kita pada anggota keluarga.

Tanpa romantisme, dijamin hidup dalam keluarga kita serasa ada yang kurang, monoton, dan bahkan hambar.

Ungkapkan semangat romantisme itu lewat kata, tatap mata, sikap, dan perilaku kita dalam keseharian. Nikmati anugerah Tuhan, karena keluarga kita dilimpahi sukacita dan bahagia.

Mas Redjo