Bila Tidak Bisa jadi Jembatan, maka Jangan jadi Tembok

“Tuhan menciptakan kita sebagai jembatan, tapi kadang kita sendiri mengubahnya jadi tembok lewat kata dan perbuatan kita.”

Kemauan dan niat baik para orangtua dan kerinduan hati anak-anak untuk mendapatkan berkat dari Yesus seakan harus terpendam, karena dilarang oleh para murid-Nya. Sebelum perasaan penolakan itu berubah jadi kekecewaan, Yesus memanggil mereka. “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan menghalang-halangi mereka.” Kemudian berkat pun mereka terima dari Yesus.

Injil memberikan pelajaran bagi kita, bahwa:

  • 1) Yesus senantiasa ingin memberkati kita, tapi apakah kita mau datang kepada-Nya seperti anak-anak yang dihantar oleh Ibu-ibu mereka?
  • 2) Sejauh manakah kita mencari dan datang kepada Tuhan? Atau kita hanya mau mencari Tuhan, bila perlu dan didorong, bahkan dipaksa oleh orang lain?
  • 3) Sadar atau tidak, kadang jembatan kita rusak, karena kesombongan dan kejahatan kita. Celakanya reruntuhan jembatan itu kita gunakan untuk membangun tembok penghalang bagi mereka yang mau bertemu dengan Tuhan;

Bila engkau tidak bisa jadi jembatan, janganlah jadi tembok yang menutup jalan orang yang mau datang kepada Tuhan.

Monsignor Inno Ngutra, Pr