Misteri Udang di Balik Batu

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Suatu hari nanti, semua batu sungai di bumi ini pun akan terangkat, dan akan tampak, siapakah si udang dan siapa pula si emas tulen.”
(Suara Sang Kebenaran)

“Udang di balik batu,” adalah peribahasa, yang bermakna “ada maksud terselubung, atau niat yang dengan sengaja disembunyikan.”

  1. Dari Sudut Antropologi: Budaya Curiga yang Menyelamatkan.

Bukankah ‘sungai’ adalah tempat yang paling dekat dan akrab dengan kehidupan riil manusia? Di sana terdapat bebatuan licin berlumut yang dapat membahayakan keselamatan manusia. Biasanya, di balik bebatuan itulah udang akan nyaman bersembunyi.

Secara antropologis, bahwa sebuah “peribahasa itu justru lahir dari luka kolektif manusia.” Hal ini bermakna, bahwa sejak awal mula, para leluhur kita juga sudah dikibuli; mereka bersepakat secara (arbitrer), menciptakan peribahasa “ada udang, di balik batu.”

  1. Dari Sudut Psikologi: Topeng Kebaikan (Hidden Agenda, psikologis).

Adapun Ciri-ciri “Udang di Balik Batu” dalam Diri Manusia, yakni:

  • a. Ia terlampau cepat baik: sangat mudah mengucapkan kata-kata: ‘sayang, kamu baik, aku siap dukung kamu’ (Sikap buru-buru ini dilontarkan, karena takut tertangkap basah alias ketahuan belangnya).
  • b. Tidak konsisten: di hadapanmu ia tampak bersikap sangat manis, tapi saat berada di belakang punggungmu, ia siap untuk menikam kamu (Ya, energinya akan terkuras demi bersandiwara).
  • c. Ada Pamrih Mikro: Ia sangat suka untuk ungkit-ungkit kebaikannya, “Jangan lupa, ya, aku sudah banyak berkorban demi kamu.”

Mengapa justru banyak orang ingin menjadi udang?

Ya, karena mereka takut untuk ditolak, jika berani bersikap jujur. Mereka sadar, tidak akan bisa bersikap jujur, agar tidak diketahui. Maka, mereka bersembunyi di balik bebatuan.

  1. Dari Sudut Filosofi: Semua Ada Baliknya

Secara filosofis, ‘alam semesta ini adalah suatu yang dualitas.’ Karena ‘batu’ itu sebuah tampilan, logo, jabatan, dan kata-kata indah. ‘Udang’ adalah niat, isi hati, dan juga isi kepala.

Permasalahannya ialah, bahwa manusia itu memang suka sibuk memoles batu, tapi lupa untuk memberi makan udang (Mudah membangun citra, tapi lupa membangun akhlak).

Tiga Buah Kebenaran dari Peribahasa “Ada Udang di Balik Batu”

  • a. Tidak ada sesuatu yang akan terus disembunyikan selamanya (Lihatlah, bahwa air bisa keruh, batu bisa terangkat, dan udang pun segera akan terlihat).
  • b. Jangan jadi batu atau udang, tapi jadilah air, karena ia selalu akan tampak jernih.
  • c. Hati-hati menuduh: karena sering kita akan traruma dengan udang, sampai-sampai batu pun kita curigai.

Penutup: Jadi, Kita harus Bersikap Bagaimana?

Jika,
(1) ‘Tapak kaki’ mengajarkan tentang ‘jejak’,
(2) ‘Wajah’ mengajarkan tentang ‘kejujuran’,
(3) ‘Pintu’ mengajarkan tentang ‘batas’,
(4) maka, “udang di balik batu,” mengajarkan tentang “tabayyun.”

Sebelum Anda mau menilai batu, selamilah dulu airnya. Lihatlah dulu, apakah ada udang ataukah tidak!

“Hidup manusia akan tenang, jika batin ini transparan. Bukankah orang akan melihat pada isinya?

Kediri, 11 Agustus 2026