Hak untuk Sebuah Posisi

Ketika Anda tiba di rumah, sesaat pintu dibuka, Anda menemukan seorang asing sedang duduk di meja makan, menempati kursi yang biasa Anda pakai, dan ia sangat menikmati hidangan di meja. Apa pikiran dan perasaan Anda tentang kejadian itu? Huff! Beraninya orang itu memasuki rumah tanpa izin, ya!

Ilustrasi itu menggambarkan betapa penting dan sangat pribadi, bahwa kita masing-masing berhak atas posisi yang jadi milik kita. Kita memiliki banyak posisi, entah saat berdiri, duduk, berbaring, dan kita berada. Itu adalah hak asasi, bahwa tempat dan ruang yang melingkupi kita adalah hak milik kita. Jika seseorang sengaja mendesak atau menekan kita ke luar dari posisi tersebut, pasti terjadi ketegangan. Reaksi yang kita berikan biasanya keras dan menolak. Tidak mudah bagi setiap orang untuk melepaskan hak milik posisinya diambil orang lain dengan tidak melalui suatu cara yang layak dan beradab.

Di dunia ini, keinginan dan kenyataan untuk mempunyai posisi sudah jadi pemahaman bersama, bahwa setiap pribadi berhak atasnya di satu pihak dan ketersediaan posisi tersebut di lain pihak, yang jadi kewajiban dari orang lain untuk menyediakannya. Kita mendengar kejadian dua Rasul kakak-beradik, Yakobus dan Yohanes, dengan bantuan Ibunya, menginginkan posisi keduanya di dalam Kerajaan Allah. Tidak salah, jika mereka mengklaim haknya itu, karena memang itu adalah harga dari mengikuti Kristus.

Pada saat yang sama Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa penuntutan hak bukan suatu hal yang otomatis jadi. Tapi dapat terfasilitasi, jika hak itu tepat dengan kewajiban yang dilakukan orang lain. Suatu penuntutan hak tidak boleh sebagai suatu tindakan buta, artinya hanya dipandang sebagai satu-satunya tindakan yang berdiri sendiri.

Yesus mengajarkan, bahwa hak dasar kita untuk mendapatkan tempat di dalam Kerajaan Allah bergantung pada syarat ini:

Kita harus menjalankan dahulu suatu kewajiban dasar, yaitu meminum cawan pahit yang juga diminum oleh Yesus. Itu adalah cara penyangkalan diri melalui hidup yang rendah hati, menanggung aneka kesulitan dan penderitaan. Allah Bapa yang berkenan atas semua penyangkalan diri itu, bakal menyediakan posisi yang pantas bagi kita di dalam Kerajaan-Nya. Salah satu cara penyangkalan diri yang paling konkret dilakukan ialah melayani tanpa pamrih dan bukan dilayani. Santo Paulus dalam surat keduanya kepada jemaat di Korintus menyebutnya sebagai kematian atas tubuh kita yang selalu ingin diutamakan atas dasar nafsu dan keinginan daging. Kematian tubuh itu memberikan kehidupan bagi roh kita.

“Ya, Tuhan, murnikanlah hati kami dari setiap kecongkakan dan nafsu untuk menang sendiri. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)