Menjadikan Hatiku sebagai Tanah yang Subur

“Tanah yang subur itu tidak akan memilih jenis benih yang ditaburkan di atasnya, karena apa pun jenisnya pasti akan tumbuh subur dan menghasilkan banyak buah. Demikian pula hati yang tenang, suci, dan damai itu memungkinkan kebaikan dapat mengalir tanpa henti kepada mereka yang ada di sekitarmu.”

Dalam Injil, Yesus melukiskan hati manusia dalam beberapa rupa jenis tanah yang memberi dua pilihan; entahkah benih yang ditaburkan dihimpit, dimakan burung dan akhirnya mati ataukah benih itu dapat hidup, tumbuh dan berbuah. Sadar atau tidak tanah hati kita ini mengalami perubahan setiap saat; kadang jadi tanah yang berduri, yang berbatu-batu, tapi sering juga jadi tanah yang subur sangat tergantung pada keputusan pribadi setiap orang.

Kita disadarkan, bahwa:

  • 1) Seyogyanya Tuhan menciptakan hati kita sebagai tanah yang subur bagi taburan dan hidupnya benih surgawi, yakni semua jenis kebaikan;
  • 2) Atas keputusan kita sendiri, tanah hati kita itu berubah jadi tanah yang berduri atau berbatu-batu, sehingga taburan benih surgawi layu dan mati sebelum berkembang;
  • 3) Satu yang pasti, bahwa Tuhan ingin melihat dan menerima dari kita kelak buah-buah kebaikan di keranjang jiwa, ketika menghadap-Nya.

Marilah kita menghitung mundur sisa waktu hidup agar kita bisa terjaga untuk berbenah diri dan memberi pupuk kepada tanah hati kita, sehingga benih surgawi bisa hidup, tumbuh, dan berbuah. Kita pasti bisa melakukannya di sisa hidup ini.

Monsignor Inno Ngutra, Pr