Jadilah Fasilator Rahmat, bukan Wasitnya

“Kadang, karena posisi atau bahkan merasa diri dekat dengan Tuhan dan Gereja-Nya, lalu terhadap sesama, kita berlaku bukan sebagai fasilator, melainkan sebagai wasit, bahkan hakim yang menentukkan layak tidaknya seseorang masuk Surga.”
Atas tindakan yang bertentangan dari para murid yang memakan bulir gandum tanpa mencuci tangan itu dikritik pedas oleh para Farisi, yang merasa sebagai wasit yang dipilih oleh Tuhan. Jawaban Yesus yang diambil dari tindakan Raja Daud itu mau menyatakan, bahwa aturan itu tetap ada. Ketika demi kepentingan manusia yang lapar, aturan harus itu menyesuaikan. Apalagi Yesus adalah Tuan atas hari Sabat.
Kita kadang bertindak terhadap sesama sebagai wasit atau hakim dan merasa tidak pernah menjadi pemain dalam drama kehidupan di hadirat Allah.
Firman Tuhan mengingatkan kita, bahkan menegur tentang beberapa hal sebagai berikut:
- Menjadi penjaga aturan itu tidak berarti menjadi kesempatan bagi kita untuk menilai dan menghakimi sesama dengan semena-mena atas nama hukum;
- Jangan mengklaim diri sebagai wasit atau bahkan hakim bagi sesama, yang bisa menentukan layak tidaknya seseorang masuk Surga. Karena sesungguhnya kita semua adalah pemain kehidupan di hadirat Allah;
- Taati aturan demi keteraturan, tapi aturan itu tidak menentukan hidup matinya seseorang. Artinya kepentingan untuk hidup itu harus diprioritasnya di atas aturan atau hukum.
Akhirnya, ingatlah pesan Paus Fransisku: “Jadilah fasilitator rahmat Tuhan bagi sesama dan bukan wasit.”
Monsignor Inno Ngutra, Pr
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.