Jangan Takut… Yesus ada di dalam Perahu Tubuhmu

“Seorang nelayan disebut ahli dalam mengarungi lautan itu bukan tergantung dari berapa jauh dan luas laut dan samudra yang dia arungi, melainkan dari selamatnya ia sampai ke tepian setelah mengarungi gelombang dan badai selama pelayaran.”
Semua orang pasti menghendaki kehidupan yang tenang dan harmonis, tapi badai dan gelombang hidup berupa masalah, sakit, dan derita adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri alias semua orang mengalaminya. Hal yang membedakan satu dengan yang lain adalah berat ringannya masalah dan cepat lambatnya sebuah masalah bisa diatasi.
Pengalaman perahu para murid yang diombang-ambingkan gelombang itu mengungkapkan realitas hidup manusia. Kematian orang-orang yang kita cintai, belum diberinya jodoh dan keturunan, kegagalan dalam usaha dan studi, konflik suami-istri, dan beragam problem lain yang dihadapi itu bagaikan gelombang dan ombak yang menghantan perahu para murid. Apa reaksi dan yang harus kita lakukan?
Jika semuanya itu jadi bagian dari hidup ini, kadang itu harus disyukuri, bahwa kita pernah mengalami gelombang dan ombak selama kita berlayar. Dengan itu, kita tahu dan sadar akan kekuatan dan kelemahan kita, antara lain;
- 1) Daya Tahan: Kita dapat mengukur seberapa besar daya tahan perahu tubuh kita dalam menghadapi hantaman gelombang;
- 2) Daya Juang: Dengan cara apakah kita bisa mendayung atau mengemudi perahu itu sampai ke tepian;
- 3) Sadar Diri: Kita bisa sadar di mana kelemahan dan kekurangan perahu tubuh kita dalam menghadapi ombak dan gelombang, sehingga dalam pelayaran berikutnya kita bisa memperbaikinya.
Di atas semuanya itu, sakit dan penyakit yang menimpa kita; problem dan derita yang mendera; serta ombak dan badai yang menghantam perahu tubuh dan diri ini, tetaplah ingat, bahwa Yesus masih dan akan tetap berada di dalam perahu kita dan berkata, “Teruslah berlayar, karena Aku di sisimu selalu.”
Monsignor Inno Ngutra, Pr