“Beriman tanpa kerendahan hati itu hanya melahirkan kesombongan rohani yang menganggap diri sebagai tangan kanan Allah dan cenderung menghakimi serta memandang remeh orang lain.”
Dalam hidup ini kita sering berhadapan dengan tipe manusia yang sok sangat religius, tapi akhlak dan perbuatan mereka menghancurkan dan melukai sesama. Tapi ada juga orang-orang beriman yang sangat rendah hati, yang memadukan secara sempurna iman dan perbuatan mereka, sehingga jadi berkat bagi orang lain di sekitarnya.
Dalam Injil, kita mendengar kisah tentang perwira yang mungkin saat itu belum beriman, tapi memiliki keyakinan akan kuat kuasa Yesus yang di hadapannya. Kata Perwira itu kepada Yesus, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Pangkat dan jabatan kemiliteran tidak menjadikannya arogan dan sombong, melainkan rendah hati.
Kita diajarkan untuk:
- 1) Menghormati dan mengakui kelebihan orang lain di sekitar kita;
- 2) Meminta tolong dari orang lain itu bukanlah ungkapan kelemahan, melainkan lahir dari kesadaran akan keterbatasan kemampuan diri;
- 3) Hanya kerendahan hati itu yang memungkinkan Anda dapat mempraktekan iman secara benar dan jadi berkat bagi orang lain.
Jadilah berkat bagi orang lain selagi ada kesempatan, karena akan tiba saatnya di mana kita akan jadi pihak yang memohon bantuan dari orang lain.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

