Sering kita mendengar tentang pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan golongan dengan berbagai cara yang merugikan negara dan rakyat. Begitu pula dengan kisah Ahab yang ingin merebut kebun anggur Nabot. Ahab menginginkan kebun itu bukan karena kebutuhan, melainkan karena keserakahan dan keinginan untuk memperluas kekuasaannya. Ahab bekerja sama dengan istrinya, Izebel untuk menekan Nabot dan merebut kebun anggurnya secara paksa. Tindakan ini menunjukkan, bahwa kekuasaan yang tidak diimbangi dengan keadilan dan kasih sayang dapat jadi alat penindasan.
Dalam Injil, Yesus mengajarkan pada kita untuk bersikap dalam menghadapi tindakan kekerasan dan ketidakadilan. Yesus tidak menyuruh kita untuk membalas dendam atau melawan kekerasan itu dengan kekerasan, sebaliknya Ia mengajarkan kita mengampuni dan membantu orang lain, bahkan kepada musuh kita. Ajaran Yesus ini menekankan pentingnya kasih sayang, keadilan dan pengampunan dalam kehidupan kita.
Melalui kisah Ahab kita diingatkan untuk menghargai hak-hak orang lain dan tidak menyalahgunakan kekuasaan. Sedang Yesus memberi contoh untuk bersikap dalam menghadapi ketidakadilan yang dialami. Kita tidak boleh membalas dendam, tapi memilih untuk mengampuni.
“Tuhan Yesus, ajarilah kami supaya berani bersikap adil dan jujur serta penuh kasih sayang kepada sesama. Amin.”
Ziarah Batin

